BARU! KAOS POLOS RAGLAN lengan 3/4 bahan cotton combed 20s kini hadir di GROSIR KAOS POLOS JOGJA

Grosir Kaos polos Jogja sedia Kaos polos raglan – lengan 3/4. Bahan cotton combed 20s. Tanpa merek, siap untuk sablon manual atau digital. Tersedia warna-warna berikut ini (body-lengan): putih-hitam, putih biru donker, putih-biru benhur, putih-merah, abu misty-hitam. Tersedia ukuran M-XL. Harga grosir, bisa beli satuan.

D-10-kaos-polos-raglan D-09-kaos-polos-raglan D-08-kaos-polos-raglan D-07-kaos-polos-raglan D-06-kaos-polos-raglan D-05-kaos-polos-raglan D-04-kaos-polos-raglan D-03-kaos-polos-raglan  D-01-kaos-polos-raglan  D-02-kaos-polos-raglan

MALIOBORO, DULU DAN SEKARANG

Selamat datang di 0 km Jogjakarta yang telah mengukir sejarah di setiap ingatan orang-orang yang pernah berkunjung ke kota Gudeg ini. Malioboro adalah jantung kota Jogjakarta yang tak pernah sepi dari pengunjung. Nama Malioboro diambil dari nama seorang Duke Inggris yaitu Marlborough yang pada menduduki kota jogjakarta dari tahun 1811M hingga 1816M. Membentang di atas sumbu imajiner yang menghubungkan Kraton Yogyakarta, Tugu dan puncak Gunung Merapi, jalan ini terbentuk menjadi suatu lokalitas perdagangan setelah Sri Sultan Hamengku Buwono I mengembangkan sarana perdagangan melalui sebuah pasar tradisional semenjak tahun 1758. Setelah berlalu 248 tahun, tempat itu masih bertahan sebagai suatu kawasan perdagangan bahkan menjadi salah satu ikon Yogyakarta yang dikenal dengan Malioboro. Terletak sekitar 800 meter dari Kraton Yogyakarta, tempat ini dulunya dipenuhi dengan karangan bunga setiap kali Kraton melaksanakan perayaan. Malioboro yang dalam bahasa sansekerta berarti “karangan bunga” menjadi dasar penamaan jalan tersebut. Diapit pertokoan, perkantoran, rumah makan, hotel berbintang dan bangunan bersejarah, jalan yang dulunya sempat menjadi basis perjuangan saat agresi militer Belanda ke-2 pada tahun 1948 juga pernah menjadi lahan pengembaraan para seniman yang tergabung dalam komunitas Persada Studi Klub (PSK) pimpinan seniman Umbul Landu Paranggi semenjak tahun 1970-an hingga sekitar tahun 1990.

Sejak zaman dulu, Malioboro telah menjadi pusat kota dan pemerintahan. Berbagai gedung sejarah menjadi saksi perjalanan Malioboro dari sebuah jalanan biasa hingga menjadi salah satu titik terpenting dalam sejarah Jogjakarta. Diantaranya adalah Gedung agung yang didirikan pada tahun 1823M dan merupakan rumah Residen Belanda pada saat itu, Benteng Vredeburg yang merupakan benteng peninggalan Belanda yang didirkan pada tahun 1765M yang kini menjadi museum, Pasar Beringharjo yang merupakan salah satu pasar terbesar di Jogjakarta hingga kini, dan Hotel Garuda yang menjadi tempat para pembesar dan Jendral-Jendral Belanda pada masa itu menginap dan berkumpul selama berada di Jogjakarta. Hingga kini, bentuk bangunannya masih menyisakan berbagai potert kenangan dari kejayaannya pada masa dahulu. Dan masih banyak gedung bersejarah lainnya.

Malioboro tahun 1936

Menikmati pengalaman berbelanja, berburu cinderamata khas Jogja, wisatawan bisa berjalan kaki sepanjang bahu jalan yang berkoridor (arcade). Di sini akan ditemui banyak pedagang kaki lima yang menggelar dagangannya. Mulai dari produk kerajinan lokal seperti batik, hiasan rotan, wayang kulit, kerajinan bambu (gantungan kunci, lampu hias dan lain sebagainya) juga blangkon (topi khas Jawa/Jogja) serta barang-barang perak, hingga pedagang yang menjual pernak pernik umum yang banyak ditemui di tempat perdagangan lain. Sepanjang arcade, wisatawan selain bisa berbelanja dengan tenang dalam kondisi cerah maupun hujan, juga bisa menikmati pengalaman belanja yang menyenangkan saat menawar harga. Jika beruntung, bisa berkurang sepertiga atau bahkan separohnya.

Jangan lupa untuk menyisakan sedikit tenaga. Masih ada pasar tradisional yang harus dikunjungi. Di tempat yang dikenal dengan Pasar Beringharjo, selain wisatawan bisa menjumpai barang-barang sejenis yang dijual di sepanjang arcade, pasar ini menyediakan beraneka produk tradisional yang lebih lengkap. Selain produk lokal Jogja, juga tersedia produk daerah tetangga seperti batik Pekalongan atau batik Solo. Mencari batik tulis atau batik print, atau sekedar mencari tirai penghias jendela dengan motif unik serta sprei indah bermotif batik. Tempat ini akan memuaskan hasrat berbelanja barang-barang unik dengan harga yang lebih murah. Berbelanja di kawasan Malioboro serta Beringharjo, pastikan tidak tertipu dengan harga yang ditawarkan. Biasanya para penjual menaikkan harga dari biasanya bagi para wisatawan.

Benteng Vredeburg dan Gedung Agung

Di penghujung jalan “karangan bunga” ini, wisatawan dapat mampir sebentar di Benteng Vredeburg yang berhadapan dengan Gedung Agung. Benteng ini dulunya merupakan basis perlindungan Belanda dari kemungkinan serangan pasukan Kraton. Seperti lazimnya setiap benteng, tempat yang dibangun tahun 1765 ini berbentuk tembok tinggi persegi melingkari areal di dalamnya dengan menara pemantau di empat penjurunya yang digunakan sebagai tempat patroli. Dari menara paling selatan, YogYES sempat menikmati pemandangan ke Kraton Kesultanan Yogyakarta serta beberapa bangunan historis lainnya. Sedangkan Gedung Agung yang terletak di depannya pernah menjadi tempat kediaman Kepala Administrasi Kolonial Belanda sejak tahun 1946 hingga 1949. Selain itu sempat menjadi Istana Negara pada masa kepresidenan Soekarno ketika Ibukota Negara dipindahkan ke Yogyakarta.

Lesehan Malioboro

Saat matahari mulai terbenam, ketika lampu-lampu jalan dan pertokoan mulai dinyalakan yang menambah indahnya suasana Malioboro, satu persatu lapak lesehan mulai digelar. Makanan khas Jogja seperti gudeg atau pecel lele bisa dinikmati disini selain masakan oriental ataupun sea food serta masakan Padang. Serta hiburan lagu-lagu hits atau tembang kenangan oleh para pengamen jalanan ketika bersantap. Bagi para wisatawan yang ingin mencicipi masakan di sepanjang jalan Malioboro, mintalah daftar harga dan pastikan pada penjual, untuk menghindari naiknya harga secara tidak wajar.

Mengunjungi Yogyakarta yang dikenal dengan “Museum Hidup Kebudayaan Jawa”, terasa kurang lengkap tanpa mampir ke jalan yang telah banyak menyimpan berbagai cerita sejarah perjuangan Bangsa Indonesia serta dipenuhi dengan beraneka cinderamata. Surga bagi penikmat sejarah dan pemburu cinderamata

Hingga saat ini, Malioboro tetap memiliki kharisma yang kuat sebagai sebuah tempat yang selalu menjadi pusat perhatian setiap wisatawan yang datang ke Jogja. Baik itu Wisatawan lokal mapun wisatawan mancanegara, hampir tidak pernah absent untuk berkunjung ke Malioboro setiap kali datang ke kota yang terkenal sebagai kota Pelajar dan kota Budaya ini. Malioboro tidak hanya menjadi surga bagi para penggila belanja yang dapat berburu oleh-oleh khas dan menarik dengan harga yang murah, sepanjang Jalanan Malioboro juga menyuguhkan cerita yang menarik dari setiap sudut gangnya yang memiliki kekhas-an tersendiri, tidak hanya itu, ketika malam hari tiba Malioboro juga menjadi surga bagi para seniman jalanan yang berburu kepingan rupiah di sepanjang jalanan Malioboro yang di penuhi oleh warung-warung lesehan dan angkringan yang menjadi tongkrongan wisatawan ataupun pribumi yang acap kali memesan kopi panas atau teh hangat sebagai suguhan di kala menikmati suasana malam Malioboro sembari mengobrol yang sesekali diselingi tawa canda bersama sahabat ataupun teman yang baru di jumpainya.

Sumber: http://www.haryadisuyuti.com/

Fenomena “Dagadu Aseli Djogdja” Suatu Resistensi ataukah Akulturasi Budaya Lokal Terhadap Budaya Global?

Kota Djogjakarta atau Ngayogyakarto Hadiningrat, sebuah kota budaya dan kota pariwisata di Indonesia yang sangat fenomenal, ketika setiap orang menyebut kota gudeg ini, pastilah akan langsung membelalakkan mata dan menggetarkan hati orang yang mendengarnya. Tentu saja, setiap orang berkeinginan untuk menapakkan kaki di kota yang notabene juga disebut-sebut sebagai kota yang penduduknya berhati nyaman ini. Ketika kita jalan-jalan ke jogja, pasti tak akan pernah lupa untuk memborong cinderamata kreativitas khas anak-anak dan mahasiswa jogja, so.. siapa sich yang ga’ kenal dengan produk dagadu Aseli djogja, oblong wujud kreativitas dan identitas jogja yang sebenarnya.

Taukah anda bahwa sejarah dagadu sebenarnya berawal dari acara iseng-iseng 25 mahasiswa arsitektur UGM yang telah membidani kelahiran Dagadu Djogja ini, hal itu tak lain karena mereka sama-sama tertarik pada bidang kepariwisataan, perkotaan dan tentu saja rancang grafis. Awalnya, mereka mendapat tawaran untuk membuka kios kaki lima di Malioboro Mall yang dibuka pada awal tahun 1994. Mereka kemudian berembug dan patungan sesuai kemampuan kantong mahasiswa. Dan dengan modal yang cukup pas-pasan itulah mereka nekat memproduksi cinderamata alternatif Djokdja yang berupa oblong, gantungan kunci, gambar tempel, dan pernak-pernik lainnya. Pilihan nama Dagadu bermula dari salah seorang di antara mereka yang mengumpat dalam bahasa slang Djokdja : dagadu! (baca: matamu). Umpatan itulah yang memberi inspirasi nama merk dagang produk cinderamata mereka sesaat sebelum mereka berjualan. Akhirnya, dagadu resmi menjadi merk produk cinderamata alternatif yang dijual di Malioboro Mall ini. Untuk menunjukkan lokalitas dari mana cinderamata itu berasal, ditambahilah kata Djokdja setelah Dagadu. Sementara itu pemakaian ejaan lama pada kata Djokdja dimaksudkan untuk memberi muatan nilai historis kota Jogjakarta. Sejak awal kelahirannya, Dagadu Djokdja sudah memposisikan diri sebagai produk cinderamata alternatif dari Djokdja. Sebuah cinderamata, tentu saja akan mengeksplorasi semangat dan khasanah budaya lokal. Selain praktis dan ringan sebagai syarat fungsionalnya, cinderamata juga harus menjadi benda kenangan. Dengan kata lain, selalu ada cerita dibaliknya, ada keunikan yang dibawanya. Djokdja selalu menjadi tema sentral produk Dagadu Djokdja. Everything about Djokdja. Ya tentang artefaknya, bahasanya, kultur kehidupannya, maupun peristiwa keseharian yang terjadi di dalamnya.

Seorang cerpenis dan budayawan, Seno Gumira Ajidarma mengatakan bahwa Perbincangan tentang Dagadu mencakup sejumlah aspek. Pertama, tentu kata dagadu itu sendiri, yang merupakan fenomena budaya menarik, karena merupakan bagian dari politik bahasa kaum paria yang menyeruak, yang pada gilirannya menjadi tandingan serius budaya adiluhung dalam pasar bebas ideologi. Kedua, Dagadu merupakan bagian dari kebudayaan pop: kaos oblong, desain, dan pasar. Seperti semua produk komoditas lain, Dagadu bergulat dengan ide-ide untuk dijual, dan menghadapi persoalan-persoalan pasar. Ketiga, bahwa Dagadu dengan sadar menempatkan dirinya sebagai bagian dari Djokdja, sebagai kota maupun sebagai atmosfir budaya yang belakangan ini membuat produk Dagadu menjadi unik, bahkan kemudian memberi karakter kepada pertumbuhan Djokdja.
Jika kita mulai menilik kedalam secara lebih detail lagi, maka akan muncul banyak pertanyaan dalam otak kita, mampukah produk Dagadu Aseli Djogdja tersebut tetap mempertahankan eksistensi budaya lokal Yogyakarta dari maraknya budaya global masa kini? Dan mampukah produk Dagadu Aseli Djogdja bersaing dengan trand produk budaya global? Why not, pada kenyataannya dagadu dapat bersaing dengan produk-produk yang ditawarkan oleh pasar global. Sampai saat ini dimana globalisasi budaya telah semakin akrab dan memasuki dunia keseharian rakyat Indonesia, tetapi setiap wisatawan yang burkunjung ke Yogyakarta, baik wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara masih tetap pergi ke Malioboro dan mencari produk Dagadu Aseli Djogdja di Malioboro Mall sebagai trand dan cinderamata paling top dari Yogyakarta. Bahkan wisatawan yang berkunjung ke Borobudur di Magelang pun tetap mencari Dagadu Aseli Djogdja ke Malioboro Mall, karena mereka tau bahwa produk Dagadu yang dijual di Borobudur belum terjamin keasliannya. Fenomena ini adalah wujud bahwa budaya lokal mampu bersaing dengan budaya global yang semakin digandrungi oleh masyarakat kita, khususnya masyarakat Yogyakarta.

Kita semakin was-was bahwa atribut budaya lokal seolah-olah terancam akibat budaya global seperti masuknya berbagai komoditas global, misalnya life style para remaja yang semakin condong pada apa yang telah disajikan oleh produk global. Keadaan ini justru akan merubah kita yang tanpa disengaja telah melahirkan berbagai interpretasi atas diri dan perilaku kita. Dalam pada itu, situasi dan kondisi dimana budaya lokal akan dipertaruhkan di tengah kancah kebudayaan global sepertinya melahirkan kontroversi dan paradigma yang berbeda dalam memandang budaya global itu. Sebagian tidak menginginkan adanya perubahan dalam kelokalan budayanya dan tanpa disadari tindakan yang dilakukan telah merubah keaslian kebudayaan itu. Justru dengan begitu, kita dapat memaknai bahwa perubahan itu akan senantiasa terjadi dan tanpa kita sadari akan meresapi diri kita dan masuk ke dalam pola perilaku dan tindakan kita. Oleh karenanya, kebudayaan akan semakin mantap, bertahan dan lestari. Pertanyaan terakhir adalah menyangkut kita sebagai pemuja kebudayaan (idols of culture) kita. Adakah kita berupaya memajukan kebudayaan kita itu, atau malah membiarkan budaya kita itu terlindas oleh budaya global? Dan sampai sejauh manakah pengakuan kita terhadap kebudayaan kita itu? Oleh karenanya, penting dilakukan kembali kaji ulang terhadap kepribadian kita yakni bukan secara langsung melontarkan bahwa kebudayaan kita itu adalah tidak maju, tidak modern, miskin dan terbelakang. Jika demikian yang terjadi maka kebudayaan kita itu akan mengalami pendangkalan makna akibat erosi pemerkayaan dan pemajuan budaya lokal itu. Semua ini adalah bukti bahwa budaya lokal bisa tetap bertahan tetapi jarang sekali yang bisa lepas dari akulturasi budaya global, ini bukanlah masalah asalkan akulturasi tersebut tidak merusak dan menghilangkan nilai-nilai keaslian dari budaya lokal itu sendiri. Seperti adanya budaya pop (kaos oblong dan desain) yang menjadi backround dalam pembuatan kaos Dagadu Aseli Djogdja tersebut toh tetap tidak menghilangkan unsur tradisional dan budaya lokal Yogyakarta. So, globalisasi tak dapat di tolak, tetapi kita harus pandai-pandai dalam memfilter mana yang akan kita serap dalam kehidupan kita sehari-hari dan mana yang akan kita tinggalkan. (yushfa)

sumber:  http://yushfa-hiers.blog.friendster.com/

SEJARAH KAOS OBLONG (dan statusnya kini)

Dibanding jenis pakaian lainnya, sejarah kaos oblong sebenarnya belumlah terlalu panjang. Kemungkinan besar kaos baru muncul antara akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Kaos berbahan katun biasanya dipakai oleh tentara Eropa sebagai pakaian dalam (di balik seragam), yang fleksibel dan bisa dipakai sebagai pakaian luar jika mereka beristirahat di udara siang yang panas. Istilah “T-Shirt” (metafor yang mungkin diambil berdasar bentuknya) baru muncul di Merriam-Webster’s Dictionary pada 1920, dan baru pada Perang Dunia II ia menjadi perlengkapan standar dalam pakaian militer di Eropa dan Amerika Serikat.

Kaos oblong mulai dikenal di seluruh dunia lewat John Wayne, Marlon Brando dan James Dean yang memakai pakaian dalam tersebut untuk pakaian luar dalam film-film mereka. Dalam A Streetcar Named Desire (1951) Marlon Brando membuat gadis-gadis histeris dengan kaos oblongnya yang sobek dan membiarkan bahunya terbuka. Dan puncaknya adalah ketika James Dean mengenakan kaos oblong sebagai simbol pemberontakan kaum muda dalam Rebel Without A Cause (1955).

Teknologi screenprint di atas kaos katun baru dimulai awal “60-an dan setelah itu barulah bermunculan berbagai bentuk kaos baru, seperti tank top , muscle shirt , scoop neck , v-neck dsb. Berbagai bentuk, gambar, atau kata-kata dalam kaos merupakan pesan akan pengalaman, perilaku dan status sosial. Kaos oblong mengkomunikasikan berbagai lokasi atau identitas sosial: tempat (HRC, Borobudur, Bali, Yogyakarta), bisnis (Coca Cola, Yamaha, Suzuki), tim (MU, Inter Milan), konser atau acara kesenian (Jakjazz), komoditas yang dianggap bernilai (VW, Harley Davidson), sementara banyak juga yang mengkomunikasikan slogan (kaos-kaos Dagadu, Joger).

Fashion, Kaos, dan Komunikasi

Meski sudah mulai mendunia sejak “50-an, konvensi mode dunia tetap saja belum memasukkan kaos ke dalam kategori fashion . Kaos tetap saja dianggap sebagai pakaian dalam yang tidak pantas dikenakan sebagai pakaian luar. Memakai kaos masih juga dianggap sebagai tindakan yang unfashion. Karena itu pada masa musik heavy metal mulai digemari kalangan muda, mereka ini sengaja memilih seragam kaos oblong sebagai bentuk penolakan terhadap konvensi arus utama mode dunia (high fashion). Menyobek beberapa bagian dari kaos oblong bahkan merupakan bagian dari gaya subkultur punk. Bagi mereka ini bentuk fashion adalah unfashion.

Perubahan dalam bahan dan teknologi produksi kaos turut berperan dalam perubahan makna kaos dalam kehidupan sosial. Ditemukannya polyester dan bahan-bahan fiber artifisial, bersamaan dengan diperkenalkannya bahan drip-dry untuk pembuatan pakaian, penambahan variasi warna, gaya dan tekstur, membuat kaos semakin diterima sebagai pakaian luar. Meski begitu, dalam diferensiasi sistem fashion, hingga sekarang kaos masih digolongkan dalam kategori low fashion (=unfashion?).  Berbeda dengan produk high fashion yang didesain dan dibuat secara khusus untuk orang-orang khusus, hampir semua kaos merupakan low fashion yang didesain untuk tujuan diproduksi secara massal.

Variasi kaos sebagai pakaian luar sekarang ini sangat beragam. Kaos diproduksi baik dalam warna-warna primer maupun dalam kombinasi yang lebih kompleks, beberapa di antaranya dilengkapi dengan saku untuk menyimpan alat tulis, rokok, atau benda kecil lainnya. Dengan begitu kaos tidak hanya dipakai oleh kalangan muda, laki-laki, atau mereka yang berasal dari golongan bawah saja, tetapi juga dipakai oleh siapa saja. Kita juga melihat kaos dipakai dalam berbagai aktivitas, dari bekerja hingga mengisi waktu senggang, seperti jalan-jalan di pusat pertokoan atau bermain golf.

Kaos oblong sekarang ini juga telah menjadi wahana tanda. Kaos, sebagaimana pakaian lainnya, membawa pesan dalam sebuah “teks terbuka” di mana pembaca atau penonton bisa menginterpretasikannya.

Betapapun klaim atas identitas atau status dalam kaos oblong ini bersifat ambigu, dalam terminologi Umberto Eco (1979), representasinya selalu bersifat undercoded , ia berhubungan secara synecdochical (satu bagian dari kaos mewakili keseluruhan pribadi seseorang) dengan pengalaman, relasi sosial, nilai, atau status yang diklaim secara eksplisit atau implisit oleh pemakainya. Pesan yang disampaikan dalam kaos bukanlah sekedar tentang tempat, kelompok, atau bisnis, tetapi klaim atas status pemakainya. Seorang pemakai kaos oblong Dagadu misalnya, bukan sekedar menyampaikan pesan bahwa kaos oblong yang dipakainya adalah buatan Yogyakarta, melainkan juga mau mengumumkan sebuah pengalaman yang menurut pemakainya cukup penting (ia seperti mau mengatakan,”Mari saya beritahu pengalaman saya jalan-jalan di Yogya”).

Tetapi sekarang ini kaos oblong juga dipakai untuk mengkomunikasikan apa yang bukan bagian dari identitas seseorang. Misalnya, penulis pernah melihat seorang ibu muda yang sedang berjalan mengandeng anaknya. Si ibu ini memakai kaos dengan tulisan “BITCH” di bagian depannya.

Apakah si ibu ini tidak mengerti bahasa Inggris atau penguasaan bahasa Inggrisnya pas-pasan, sampai ia tidak mengerti bahwa bitch (anjing betina) adalah umpatan yang sangat kasar yang biasa dipakai untuk menyebut wanita jalang? Apalagi waktu itu ia sedang menggandeng anaknya. Bukankah si anak ini menjadi cocok dengan umpatan lainnya, son of a bitch ? Seandainya si ibu ini cukup mengerti bahasa Inggris, tentu yang mau dikomunikasikannya adalah “saya bukan bitch “. Ini semacam pendifinisian double negative, di mana seseorang mengklaim (secara ragu-ragu) keanggotaan pada kelompok tertentu yang tidak eksis. Si ibu tadi mengklaim keanggotannya pada kelompok “perempuan/ibu yang baik” tanpa menghadirkan kelompok yang diklaimnya ini. Hal yang sama juga terjadi pada kasus salah satu teman yang memakai kaos bergambar logo Golkar untuk menunjukkan pengejekannya pada Golkar atau untuk mengatakan bahwa ia bukan simpatisan Golkar.

Dengan semakin tumbuhnya industri periklanan, kaos merupakan bilboards mini yang cukup efektif untuk mengkomunikasikan sebuah produk, sebagaimana mengkomunikasikan diri atau identitas. Seringkali kaos dijadikan iklan berjalan yang oleh pengiklan kadang-kadang dibagikan secara gratis. Di Indonesia, adalah hal yang biasa banyak orang berebut mendapatkan pembagian kaos dari OPP pada saat Pemilu (tak jarang juga disertai pembagian “amplop”). Perusahaan-perusahaan sekarang ini juga membuat kaos dengan nama atau logo perusahaan yang tertera di atasnya (Coca Cola, Reebok, Nike, Wilson), dan menjualnya di toko-toko sebagai pakaian produksi massal yang siap pakai. Bagi sejumlah besar pemakainya, tentu memakai kaos oblong tidak dimaksudkan sebagai iklan, melainkan sebagai indikasi status dan pendapatan pemakainya, loyalitas atau kepercayaan pada satu produk. Ia juga merupakan suatu bagian dari identitas diri, “Saya adalah penggemar Coca Cola”, “Seperti Michael Jordan, saya memakai Nike (bagaimana dengan Anda?)”.

Kaos-kaos buatan perusahaan tertentu dianggap mewakili gaya hidup atau selera yang khas, selain sekaligus si pemakai mengiklankan perusahaan pembuatnya. Misalnya kaos bermerek Benetton, Ralph Lauren atau Calvin Klein. Simbol-simbol tertentu pada kaos, seperti buaya kecil atau kuda poni dan pemain polo kecil (dan berbagai variannya), juga sangat penting. Simbol-simbol ini bukan hanya menunjukkan status pemakainya yang mampu mengkonsumsi pakaian buatan desainer mahal, tetapi juga status dalam sistem fashion itu sendiri (ketika kelompok desainer Parisian juga memproduksi kaos, apakah kaos menjadi high fashion ?).

Kaos dan Kehidupan Modern

Lebih dari jenis pakaian yang lain, sejarah kaos bukan saja menunjukkan cepatnya perubahan teknologi dalam industri garmen, melainkan juga menunjukkan bagaimana fashion bernegosiasi dengan ruang dan waktu.

Kaos semula hanya diakui sebagai pakaian dalam. Dan dalam kaitannya dengan pola penempatan ruang, sebagai pakaian dalam kaos adalah pakaian privat . Tetapi kemudian dengan negosiasi lewat media massa dan penemuan bahan serta model-model baru, kaos perlahan mulai tampil sebagai pakaian publik. Karena itu, sejalan dengan kecenderungan kehidupan modern, perjalanan kaos dari ruang privat ke ruang publik ini merupakan ekspansi ruang privat atas ruang publik (privatisasi ruang publik). Sementara dalam kaitannya dengan pola pemanfaatan waktu, kaos menunjukkan bagaimana waktu senggang semakin berhasil mengekspansi waktu yang lain dalam kehidupan sehari-hari. Kaos bisa dilihat sebagai bagian dari leisure class , yang menunjukkan statusnya dengan pemanfaatan waktu senggang sebesar-besarnya.

Persis seperti semboyan kaos oblong Dagadu ” Smart and Smile “, kaos oblong mengajarkan bagaimana hidup modern harus dijalani: berpenampilan cerdas, ringkas, tangkas, sekaligus santai. Hidup dengan segala tetek-bengeknya yang rumit ternyata tidak harus dijalani dengan rumit pula, melainkan bisa dijalani dengan “seperlunya dan santai”. Dalam perspektif ini, papan pengumuman di kampus-kampus yang berbunyi “Dilarang memakai kaos dan sandal” adalah warisan dari kehidupan masa lalu yang “serius” dan sebentuk “pendisiplinan gaya”, yang tidak lagi cocok dengan semangat smart and smile . Karena itu mahasiswa tetap saja berkaos oblong di kampus, pertama-tama bukan untuk menunjukkan perlawanan langsung mereka kepada aturan hidup yang lama, melainkan untuk menunjukkan bahwa diri mereka sendirilah yang paling berhak atas penampilannya. Dan bagaimana mereka harus berpenampilan, salah satunya ditentukan oleh resepsi mereka terhadap media massa, yang juga mengajarkan smart and smile (misalnya semboyan iklan telepon genggam Nokia seri 3210, “Begitu kecil, begitu cerdas”). Jadi hidup modern dijalani dengan semangat mengisi waktu senggang. Inilah yang disebut estetikasi kehidupan sehari-hari yang mencirikan kehidupan modern (di mana “yang etis” bergeser menjadi “yang estetis”). Semangat kehidupan modern sebenarnya adalah semangat kaos oblong.

Referensi

  • Ajidarma, Seno Gumira, 2001, “Djokdja Tertawa, Disain Kaos Oblong DAGADU”, Bernas , 12 Januari 2001.
  • Cullum-Swan, Betsy dan P.K. Manning, 1990, “Codes, Chronotypes and Everyday Objects”, makalah disampaikan dalam konferensi The Socio-semiotics of objects: the role of artifacts in social symbolic process, 20-22 Juni 1990, University of Toronto. Tersedia di: http://sun.soci.niu.edu/~sssi/papers/
    pkm1.txt
  • Eco, Umberto, 1979, Theory of Semiotics , Indiana: University of Indiana Press.
  • Hebdige, Dick, 1999 (1979), Subculture, The Meaning of Style , London & New York: Routledge.
  • McRobbie, Angela, 1999, In the Culture Society, Art, Fashion and Popular Music , London & New York: Routledge.
  • Rojek, Chris, 2000, “Leisure and rich today: Veblen”s thesis after a century”, Leisure Studies 19 (2000), hal. 1-15.
  • T-Shirt King, “History of American T-Shirt”. Tersedia di: http://www.t-shirtking.net/history_of_t-shirts.html

Makalah ini disampaikan sebagai pengantar diskusi “Art on T-Shirt”, Bentara Budaya Yogyakarta, 13 Januari 2001. Versi pendek tulisan initermuat di KOMPAS, 28 Januari 2001.

Sumber: http://kunci.or.id/articles/menjadi-modern-dengan-kaos-oleh-antariksa/

KARAKTERISTIK JENIS KAIN KAOS

Kain Katun

Kain katun adalah jenis kain rajut (knitting) yang berbahan dasar serat kapas. Terdapat jenis kain yang mirip dengan kain katun yaitu kain PE.Cara mudah membedakannya adalah apabila kain katun dibakar maka baunya seperti kertas atau kayu dibakar dan akan menjadi abu.

Keunggulan:

1. Tidak kisut apabila dicuci
2. Tidak luntur untuk bahan berwarna
3. Mudah disablon
4. Menyerap keringat.
5. Tidak berbulu

  • Katun Kombed (Combed Cotton)

Adalah jenis kain katun yang diproduksi dengan finishing disisir (combed) dengan tujuan agar serat-serat kapas halus dapat dipisahkansehingga kain yang dihasilkan lebih halus dan tidak berbulu. Kain katunkombed tersedia dalam dua ukuran yaitu 20s dan 30s.
Kain jenis ini biasa digunakan untuk bahan kaos distro-distro bandung.
Katun Kombed 20s adalah kain katun kombed yang terbuat dari benang yang berukuran 20s.
Katun Kombed 30s adalah kain katun kombed yang terbuat dari benang yang berukuran 30s.
Kain katun kombed 20s lebih tebal daripada 30s. Sehingga kain katun 30s lebih lemes daripada kain katun 20s.

  • Katun Karded

Berbeda dengan kain katun kombed, kain katun karded tidak disisir pada proses finishing pembuatannya. Oleh karena itu masih terdapatserat-serat kapas halus yang tersisa. Tetapi meskipun begitu kain katunkarded memiliki keunggulan harga yang lebih murah dibandingkan kain katun kombed.

Pada kain katun karded hanya terdapat ukuran 20s.
Perbedaan antara kain katun kombed dan karded yang ada di pasaran adalah kain katun kombed lebih tebal daripada kain katun karded.

  • Kain Lacoste

Kain Lacoste adalah jenis bahan yang biasa digunakan untuk membuat kaos polo/kerah/wangki.

  • Kain Pique

Sama seperti kain Lacoste/adidas, kain Pike juga biasa digunakan untuk membuat kaos polo/kerah/wangki. Sama seperti pada kain lacoste/adidas untuk membuat kaos kerah tersebut biasanya digunakan kerah jadi.
Kerah jadi adalah bahan kerah yang sudah jadi diproduksi oleh pabrik dan tinggal jahit.
Kerah bikin adalah kerah yang dibuat sendiri oleh tukang jahit dengan menggunakan bahan yang sama dengan bahan kaos (katun kombed dan karded) dengan menambahkan kain keras di dalamnya.

  • Kain PE

Kain PE (Poly Ester) adalah kain yang tingkatnya berada di bawah katun.Bahan dasarnya adalah benang polyester. Sama dengan katun, PE jugatersedia dalam bentuk bahan kaos oblong, lacoste/adidas, maupun pike.
Untuk kain kaos yang berbahan dasar PE bentuk dan teksturnya hampirmirip dengan kain kaos yang berbahan dasar katun (cotton). Cara mudahmembedakannya adalah kain PE apabila dibakar maka baunya sepertiplastik dibakar, jalan apinya cepat dan akan menjadi arang.

Keunggulan:

Murah

Kelemahan:

Pada beberapa jenis PE untuk bahan kaos, kain ini rawan kisut apabila dicuci dan mudah luntur.
Pada jenis PE untuk bahan sweater, biasanya suka berbulu sesudah beberapa kali dicuci.

  • Light weight wools

Di kepala Anda, kain wol mungkin langsung identik dengan bahan yang berat. Untuk lightweight wools, sesuai dengan namanya, kain wol ini tergolong ringan dan bisa dipadukan dengan apa saja. Jatuhnya di badan pun enak dilihat. Kelebihannya, kain ini agak ‘bandel’ alias tahan banting (awet).

  • Akrilit

Bahan untuk membuat kemeja. Biasanya dikombinasikan dengan rompi berbahan light weight wools

  • Cashmere

Bahan ini tergolong mewah, dengan kualitas prima. Jangan heran bila embel-embel price tagnya pun tergolong menguras kantung. Dipadukan dengan rok yang elegan ataupun dengan jeans saja, cashmere tetap terlihat mewah dan mahal. Semakin sering dicuci, bahan ini akan semakin halus. Tapi perhatikan dulu, tidak sembarang cuci, karena mencucinya pun dilakukan dengan shampoo.

  • Sheer

Biasa digunakan untuk tampilan elegan dan anggun. Pilih yang transparan dilengkapi dengan dalaman, Anda akan terlihat simple yet sexy.

  • Jersey

Untuk bahan satu ini, agar jatuhnya enak dan terlihat oke melekat di lekuk tubuh Anda, pilih yang bahannya agak berat. Satu ukuran lebih besar akan menghindari kesan pakaian melekat ketat yang tidak enak dilihat.

  • Denim

Tidak ada yang tidak mengenal dan sayang pada jenis bahan satu ini. Denim alias bahan jeans, dicintai semua kalangan. Semakin gelap warnanya, semakin mudah mencari padanannya. Selain itu juga denim yang berwarna gelap akan terlihat lebih rapi dan formal daripada yang terang dan belel.

  • Linen

Kain cantik ini berkerut. Tapi jangan sampai kerutannya malahan menganggu penampilan Anda.

  • Lycra

Lycra biasanya dipadukan dengan bahan pakaian lainya, karena kandungannya hanya beberapa persen saja. Tapi bahan pakaian yang terbuat dari unsure lycra akan lebih tahan lama kerapiannya.

  • Leather & Suede

Pasti keduanya sudah sangat familiar di telinga Anda, bukan tidak mungkin, mulai dari dari celana, tas sampai sepatu Anda pun terbuat dari bahan tersebut. Dua-duanya sebenarnya sama-sama terbuat dari kulit. Hanya saja, leather dibuat dari kulit luar, sementara suede dibuat dari bagian kulit dalam. Cari yang halus dan tidak kaku. Untuk dua bahan ini, Anda akan memerlukan teknik perawatan khusus untuk membersihkannya.
Untuk leather, pilih yang tidak mengkilap untuk kesan mahal dan elegan. Mengkilap malahan berkesan murahan.

  • Paragon

Jenis kain yang halus seperti kapas.Umumnya digunakan bahan pembuatan Baju Basket. Kualitas IBL Indonesia

  • D’Tree

Kain berpori penyerap keringat. Biasanya digunakan untuk bahan baju basket juga.

  • Baby Tray

Jenis kain yang bersifat tebal dan halus serta tidak berbulu. Bagian dalamnya lembut seperti selimut. Biasa digunakan untuk bahan Jumper/Sweeter.

  • Aston

Bahan agak licin dan biasanya digunakan dalam pembuatan jas

  • Kanvas

Bahan yang tebal dan kasar. Cocok untuk anak muda. Bahan pembuatan jaket. Jaket dengan bahan ini sangat tahan.

JENIS BENANG DAN RAJUTAN BAHAN KAOS

Seperti yang kita ketahui, bahan dasar dari semua pakaian adalah benang. Untuk suatu benang menjadi kain kaos, harus melalui proses dirajut atau knitting. Baik jenis benang maupun tipe rajutan pada kain kaos berbeda-beda.

JENIS BENANG

1. BENANG 20S.

Biasanya dipakai apabila kita menghendaki ketebalan atau gramasi bahan kaos antara 180 sampai dengan 220 Gram/Meter persegi untuk jenis rajutan Single Knitt.

2. BENANG 24S

Biasa dipakai apabila kita menghendaki ketebalan atau gramasi bahan kaos antara 170 sampai dengan 210 Gram / meter persegi untuk jenis rajutan Single Knitt.

3. BENANG 30S

Biasa dipakai apabila kita menghendaki ketebalan atau gramasi bahan kaos antara 140 sampai dengan 160 Gram / meter persegi untuk jenis rajutan Single Knitt atau Gramasi 210 sampai dengan 230 Gram / meter persegi untuk jenis rajutan Double Knitt.

4. BENANG 40 S

Biasa dipakai apabila kita menghendaki ketebalan atau gramasi bahan kaos antara 110 sampai dengan 120 Gram / meter persegi untuk jenis rajutan Single Knitt atau Gramasi 180 sampai dengan 200 Gram / meter persegi untuk jenis rajutan Double Knitt.

JENIS RAJUTAN

1. SINGLE KNITT (Contoh. Combed 20′S, S nya adalah single knitt)
Pengertian teknisnya adalah rajutan jarum single. Penggunaan hanya satu permukaan atau kaos tidak bisa dibolak-balik (2 permukaan). Jenis rajutan rapat, bahan padat, kurang lentur (stratching). Sebagian besar produk kaos yang ada di pasaran adalah memakai jenis rajutan Single Knitt.

2. DOUBLE KNITT (Contoh. Combed 20′D, D nya adalah double knitt)
Pengertian teknisnya adalah rajutan Jarum Double sehingga penggunaannya bisa dibolak-balik (atas bawah tidak masalah). Jenis rajutan tidak rapat, bahan kenyal, lembut, dan lentur. Produk kaos yang biasa memakai rajutan jenis ini adalah pakaian untuk bayi (baby) dan anak-anak (Kid’s). Ada sebagian orang menyebut bahan ini dengan sebutan Interlock.

3. LACOSTE
Pengertian teknisnya adalah rajutan texture / corak. Penggunaan tidak bisa dibolak-balik. Jenis rajutan bertexture, bulat, kotak, atau menyerupai segitiga kecil-kecil. Sebagian orang ada yang menyebut bahan ini Pique atau Cuti, dan hanya lazim digunakan untuk Polo Shirt atau Kaos Kerah.

4. STRIPER atau YARN DYE
Pengertian teknisnya adalah rajutan kombinasi benang warna (Yarn Dye). Penggunaan tidak bisa di bolak-balik. Jenisnya bisa Single Knitt maupun Double Knitt. Finishing harus openset / belah. Orang awam menyebut bahan ini dengan sebutan bahan salur / warna-warni. Biasa digunakan untuk produk kaos dewasa (Pria, Wanita, T-Shirt, maupun Polo Shirt).

5. DROP NEEDLE
Pengertian teknisnya adalah rajutan dengan variasi cabut jarum. Penggunaannya bisa di bolak-balik. Jenis rajutan texture garis lurus vertikal, lembut, dan lentur. Produk kaos ini banyak digunakan untuk Rib Leher (T-Shirt), Ladies T-Shirt Body Fit, dan kaos singlet.

JENIS BAHAN KAOS

Meskipun hampir setiap hari mengenakan kaos, banyak yang belum mengetahui jenis kain atau bahan pembuat kaos. Bagi yang sudah mengetahui jenis-jenis kaos, sering kali susah membedakan bahan kaos antara satu dengan yang lainnya. Jika anda mengalami hal serupa, jangan khawatir, karena Anda tidak sendirian.

Jenis bahan kaos yang beredar di pasaran sangat banyak. Jenis bahan kaos yang umum ditemukan adalah Cotton Combed, Cotton Carded, TC, PE, Hyget.

1. COTTON, ada 2 macam berdasarkan spesifikasi benang:

A. COTTON COMBED:
Serat benang lebih halus.
Hasil Rajutan dan penampilan lebih rata

B. COTTON CARDED:
Serat benang kurang halus.
Hasil rajutan dan penampilan bahan kurang rata.

Sifat kedua jenis bahan tersebut bisa menyerap keringat dan tidak panas, karena bahan baku dasarnya adalah serat kapas.

2. TC (TETERON COTTON)

Jenis bahan ini adalah campuran dari Cotton Combed 35 % dan Polyester (Teteron) 65%. Dibanding bahan Cotton, bahan TC kurang bisa menyerap keringat dan agak panas di badan. Kelebihannya jenis bahan TC lebih tahan ’shrinkage’ (tidak susut atau melar) meskipun sudah dicuci berkali-kali.

3. CVC ( COTTON VISCOSE)

Jenis bahan ini adalah campuran dari 55% Cotton Combed dan 45% Viscose. Kelebihan dari bahan ini adalah tingkat shrinkage-nya (susut pola) lebih kecil dari bahan Cotton. Jenis bahan ini juga bersifat menyerap keringat.

4. POLYESTER dan PE

Jenis bahan ini terbuat dari serat sintetis atau buatan dari hasil minyak bumi untuk dibuat bahan berupa serat fiber poly dan yang untuk produk plastik berupa biji plastik. Karena sifat bahan dasarnya, maka jenis bahan ini tidak bisa menyerap keringat dan panas dipakainya

5. HYGET

Jenis bahan ini juga terbuat dari plastik, namun lebih tipis. Banyak digunakan untuk keperluan kampanye partai

Jenis bahan kaos diatas umumnya digunakan untuk kaos oblong. Sedangkan untuk kaos berkerah atau biasa disebut kaos polo, biasanya digunakan bahan PIQUE. Bahan ini biasa disebut LACOSTE. LACOSTE sendiri adalah merek kaos yang banyak menggunakan bahan ini. Selain lacoste, yang banyak menggunakan jenis bahan ini adalah POLO RALPH LAUREN.

Perlu diketahui bahwa masing-masing pabrik bahan kaos menghasilkan kualitas produk yang berbeda. Artinya, sama-sama cotton combed, dari pabrik A, bisa berbeda dengan pabrik B, dan produk dari toko kain A bisa jadi berbeda dengan toko kain B.

Penamaan jenis bahan kaos juga berubah-ubah dan kadang menyesatkan. Hal ini bisa terjadi karena ketidak mampuan konsumen untuk membedakan jenis bahan kaos secara tepat. Misalkan, seorang pembeli kaos masuk ke salah satu toko kain di Tanah Abang Jakarta dan hendak membeli cotton combed. Kebetulan saat itu stock cotton combed di toko tersebut tidak ada. Bilanglah si pemilik toko: ”pake ini aja nih.. Semi Combed, kualitas sama harga lebih murah” dan si pembeli pun menurut. Alhasil, muncullah istilah baru: Semi Combed. Usut punya usut, ternyata yang disebut Semi Combed itu adalah Cotton Carded!. Dengan motif serupa, muncul istilah-istilah bahan yang baru seperti Soft Combed, Carded Super, Super Combed, Cotton kualitas A, PE super, dan lain-lain.

PROSES SABLON KAOS DIGITAL

Setiap teknik cetak memerlukan pemahaman design yang baik dan benar, termasuk dalam teknik cetak sablon digital, pemahaman ini berfungsi untuk membuat design kita cocok dengan teknik sablon digital. Jadi sejago apapun anda sebagai designer tapi kalo anda tidak paham dengan teknik cetak apa akan dicetak maka bisa dipastikan hasilnya tidak akan maksimal.

Nah untuk itu kami mengajak anda untuk memahami aturan-aturan design untuk sablon digital. Dalam hal ini kami akan berikan contoh-contoh design yang cocok diterapkan untuk dicetak dengan teknik sablon digital sehingga akan lebih jelas bagi anda yang ingin memesan produk kami. Pembahasan sablon digital disini adalah sablon digital yang berbasis transfer paper bukan direct print on t-shirt atau mesin DTG (Direct To Garment).

Berikut hal-hal tentang design yang harus diperhatikan ketika akan dicetak menggunakan teknik sablon digital :

A. FORMAT WARNA

Kita ambil contoh yang simpel saja dalam hal ini, masalah warna, jika kita menggunakan printer dekstop semacam epson R230, epson T11,dsb maka format warna kita adalah RGB akan tetapi jika kita menggunakan mesin plotter seperti ROLAND atau MUTOH maka format warna kita adalah CMYK. Jika format warna ini tidak kita perhatikan maka hasil cetakpun tidak akan maksimal. Kami sarankan design anda dalam format CMYK agar hasil cetakan lebih mendekati warna yang anda inginkan.

B. BATASAN YANG JELAS

Design untuk sablon digital harus memiliki batas yang jelas antara gambar dengan warna bahan kaos, jika tidak ada batasan yang jelas maka akan susah menentukan batasan cutting/pemotongan sehingga hasil sablon akan terlihat kaku atau nge-blok tidak jelas.

C. UKURAN DESIGN

Sablon digital berbasis transfer paper saat ini masih memerlukan proses cutting atau pemotongan, dimana bagian yang tidak kita inginkan atau tidak perlu kita buang sedangkan bagian yang ada warna atau designnya kita press di atas permukaan kain. Proses pemotongan ini bisa secara manual maupun digital, dengan cara manual biasanya untuk design-design yang simpel sedangkan untuk design yang rumit ataupun mudah tapi memerlukan kerapian tinggi semisal (sablon huruf atau tulisan) menggunakan mesin cutting plotter.

Proses pemotongan baik secara manual maupun digital memiliki keterbatasan ukuran, untuk itu anda harus memperhatikan bahwa design yang akan kita potong masih dalam range kemampuan alat potong kita. Biasanya ukuran terkecil yang bisa dicutting adalah sekitar 0,5cm.

D. CONTOH-CONTOH DESIGN YANG BISA DIGUNAKAN DALAM TEKNIK SABLON DIGITAL

Setiap teknik sablon memiliki keunggulan dan kelemahan masing-masing begitu juga dengan teknik sablon digital berbasis transfer paper. Kita akan memberi contoh beberapa design yang bisa dikerjakan dengan cara sablon digital dan apa kelebihannya dibandingkan dengan teknik sablon manual.

DESIGN GANTI WAJAH

Design ganti wajah atau permak wajah sangat umum dicetak menggunakan sablon digital, design ini membawa konsep merubah wajah asli (photo) menjadi kartun baik itu konsep manga, konsep stencil (satu warna) atau sketsa sehingga photo menjadi lebih unik dan menarik. Dengan konsep ini anda bisa merubah photo anda menjadi gambar kartun jepang, kartun amerika, sketsa yang tentunya akan membuat wajah anda menjadi unik dan menarik dan bisa dipastikan design tersebut pasti hanya ada satu di dunia kecuali anda memiliki saudara kembar..he..he..

Pertanyaannya apakah design seperti itu tidak bisa di cetak dengan sablon manual?. Tentunya bisa tapi kalo jumlahnya hanya 1 pcs atau jumlah warna terlalu banyak maka proses sablon manual akan lebih ribet dan mahal. Bayangkan jika ada 7 warna dalam design tersebut maka anda harus membuat 7 screen dan proses garuknya juga 7 kali, hal inilah yang menyebabkan kenapa teknik sablon digital lebih disukai untuk design-design seperti ini.

DESIGN PHOTO ATAU FULLCOLOR

Design photo atau fullcolor merupakan salah satu design yang paling rumit bila dilakukan menggunakan teknik sablon manual. Anda harus membuat 4 film untuk mencetak satu design, dimana biaya pembuatan film ini cukup mahal sehingga sangat tidak efektif bila kita hanya mencetak jumlah sedikit. Selain itu, dalam proses penyablonannya pun tetap tidak bisa halus seperti cetakan photo (pasti akan ada resolusi kasar yang terlihat).

Disinilah fungsi sablon digital diperlukan, untuk design photo atau full color memang lebih diunggulkan daripada teknik sablon manual. Kalo dulu teknik sablon digital full color hanya bisa diaplikasikan bahan poliester tapi sekarang sudah bisa diaplikasikan hampir di semua bahan termasuk katun baik di warna terang atau hitam sekaligus.

Coba anda perhatikan design tersebut, design tersebut adalah kombinasi photo dan tulisan. Dengan teknik sablon digital hanya perlu waktu 15 menit tapi akan sangat rumit jika kita menyablonnya dengan teknik manual. Disinilah design berperan, bagi para pengusaha sablon berbasis manual tentunya akan menghindari design-design seperti ini agar tidak menyulitkan proses produksi sedangkan bagi pengusaha sablon digital inilah keunggulan yang harus ditawarkan kepada klien.

PASANG PHOTO DI KAOS


Jika anda merasa memasang photo di kaos terlalu narsis maka anda bisa mengakalinya dengan cara mentracing photo anda tersebut seperti contoh di atas. Dengan model tracing maka photo anda terlihat seperti gambar kartun dan tentunya lebih menarik serta tidak narsis

Sumber: oblongdigital.web.id

PROSES SABLON KAOS

Untuk Mendapatkan Hasil cetak Sablon yang sesuai dengan keinginan Anda, maka penting untuk mengenal dan menerapkan langkah / tahapan yang benar dalam Proses Menyablon

1. Tahapan Pra Cetak, yang termasuk dalam tahapan ini adalah :

Proses Design

Proses ini berkaitan dengan ide atau gagasan anda yang diwujudkan dalam suatu suatu proses pencitraan sehingga ide / gagasan anda tersebut akhirnya memiliki bentuk yang konkret ( biasanya disebut design / artwork ).

Misalkan, anda memiliki sebuah gagasan akan sebuah gambar monyet yang sedang memakan pisang dan anda ingin menambahkan sebuah dialog lucu yang diucapkan oleh monyet tersebut. Pada saat itu, gambaran tersebut hanya ada di benak / imajinasi anda dan belum memiliki bentuk pencitraan yang konkret.

Nah tugas anda selanjutnya adalah mewujudkan gambaran tersebut kedalam bentuk yang konkret, bagaimana caranya ? ada beberapa teknik, misalnya : dengan photography ( mengambil photo monyet yang sedang makan pisang ), dengan gambar tangan ( hand drawing ), dan lain sebagainya.

Pada intinya adalah, proses design mengubah ide / gagasan anda menjadi bentuk yang lebih konkret, yang dapat dilihat oleh semua orang ( kecuali orang buta dan rabun ), dan tujuan akhirnya untuk proses menyablon adalah agar design anda tersebut dapat diolah menjadi Film / Klise Sablon.

Pembuatan Film / Klise Sablon

Sekarang anda telah memiliki design yang siap untuk dicetak, langkah selanjutnya adalah mengolahnya menjadi Film / Klise Sablon.

Proses Stencil / Afdruk

Setelah anda memiliki Film / Klise Sablon, maka saatnya untuk memindahkan gambar / image yang tercetak di film sablon tersebut ke screen, melalui apa yang disebut proses afdruk.

Persiapkan Meja Kerja anda

ini sangat penting sebelum anda memulai proses pencetakan, sehingga saat anda sedang mencetak nanti tidak akan terganggu dengan kegiatan lainnya, misalnya tiba – tiba tinta yang anda gunakan habis, atau anda lupa untuk menyediakan tempat untuk pengeringan media yang baru dicetak, dan lain sebagainya.

2. Tahapan saat Cetak

Saat mencetak yang perlu anda perhatikan adalah penggunaan teknik sapuan rakel yang benar. Karena tugas mencetak sebenarnya sangat sederhana yaitu memindahkan tinta ke media yang diinginkan melalui kain saring / screen.

Selain itu, pelajari sifat – sifat dari tinta cetak yang sedang anda gunakan, karena tidak setiap tinta memiliki karakteristik yang sama. Parameter yang mungkin anda perlu ketahui adalah : kecepatan tinta untuk mengering, biasanya ini menjadi kendala karena tinta yang mengering terlalu cepat di screen akan menghambat proses pencetakan, anda perlu melancarkan kembali pori – pori kain saring / screen yang telah tersumbat oleh tinta yang telah mengering tersebut, karena bila tidak maka hasil cetak tidak dapat terbentuk dengan sempurna.

Catatan : salah satu kelebihan dari tinta plastisol yang digunakan dalam penyablonan t-shirts adalah bahwa tinta jenis ini tidak akan mengering, bahkan bila anda meninggalkannya diatas screen dalam jangka waktu yang lama, karena tinta jenis ini membutuhkan proses curing untuk mengeringkannya.

3. Tahapan Pasca Cetak

Ada tiga hal ( bisa lebih ) yang biasanya perlu anda lakukan setelah anda selesai melakukan pencetakan, yaitu :

Proses Drying

Setiap tinta cetak memerlukan waktu untuk mengering dengan sempurna, bahkan bila anda memegang tinta tersebut dan permukaannya anda rasa telah mengering, belum tentu tinta tersebut telah kering dengan sempurna, oleh karena itu penting untuk mengenal karakteristik tinta cetak yang anda gunakan. Untuk proses ini anda dapat melakukannya dengan melalui proses alami ( penjemuran – cukup diangin –anginkan saja ) atau dengan bantuan mesin ( kipas angin, blower, dsb. ).

Proses Curing

Proses ini memerlukan alat – alat yang khusus untuk dapat mengeringkan jenis – jenis tinta tertentu. Seperti misalnya tinta jenis plastisol yang perlu melalui proses pemanasan dalam temperatur yang sangat panas ( sekitar 143 – 166 0 C ), biasanya dengan menggunakan mesin conveyer atau flash heater. Untuk Tinta Karet / GL / Rubber, juga memerlukan proses curing, dengan menggunakan mesin hot press yang dapat diatur panas temperaturenya ( sekitar 110 – 130 0 C ).

Note :
Banyak praktisi sablon yang sering mengabaikan atau tidak melakukan proses ini dengan cara yang benar, sehingga mengakibatkan buruknya mutu hasil cetak. Bila hasil cetak / print ternyata pecah – pecah, luntur, pudar, dsb., mungkin ada yang salah dengan tahapan pengeringan atau curing yang anda lakukan.

Proses Burning / Pengopenan

Ada jenis – jenis tinta tertentu yang membutuhkan treatment seperti ini, pada dasarnya proses ini membakar / memanggang tinta tersebut sehingga mencapai titik pengeringan yang sempurna

SABLON KAOS FOIL GOLD ATAU SILVER

Seperti yang sudah banyak diketahui, sablon dengan menggunakan foil akan menghasilkan desain berwarna emas atau silver yang timbul atau menonjol pada kaos, hal ini tidak bisa dilakukan dengan sablon menggunakan tinta sablon biasa. Saat ini sablon kaos dengan bahan foil semakin banyak peminatnya. Hampir di setiap mata memandang, selalu ada yang mengenakan kaos bersablon foil. Bahan foil sendiri seperti telah disebutkan diatas ada dua macam yaitu warna gold dan silver

Untuk mewujudkan design sablon dengan menggunakan bahan foil pada dasarnya meliputi dua tahap. Tahap pertama menggunakan bahan adhesive / sejenis lem. Bahan ini digunakan untuk melekatkan lapisan foil. Proses yang perlu dilakukan yaitu mencetak lapisan adhesive  ke kain kemudian mengeringkan adhesive tersebut. Pencetakan lapisan adhesive tersebut dengan menggunakan screen sablon yang telah dicetak sesuai design.

Tahap kedua menggunakan mesin hot press. Caranya adalah dengan mengepress dengan pemanasan lapisan foil pada adhesive. Foil akan melekat pada adhesive dan bagian metallic yang berkilau akan tertinggal pada desain yang telah anda buat.

Berikut ini adalah cara sablon kaos menggunakan bahan foil:

1.      Proses Desain

Buatlah desain yang ingin anda sablon pada kaos menggunakan software desain grafis seperti Corel Draw atau PhotoShop. Setelah selesai mendesain gambar yang anda inginkan, eksport file tersebut ke format *.eps dengan posisi mirror.

2.      Proses Cutting

Setelah anda save file dengan posisi mirror tersebut, kemudian import file tersebut ke software cutting pada komputer dan potong desain tersebut dengan mesin plotter.

3.      Proses Screen

Lepaskan lapisan kertas bagian belakang kemudian rekatkan pada screen. Agar mudah mengerjakan proses ini gunakan masking tape. Pastikan bagian-bagian yang tidak diinginkan ditutup dengan selotape kertas.

4.      Proses Adhesive

Letakkan screen dengan posisi menghadap ke kaos kemudian tuangkan adhesive secara merata.

5.      Proses Rackle

Gunakan rackle untuk menyapukan adhesive secara merata, tekan agak kuat dan hati-hati agar screen tidak sobek.

6.      Angkat Screen

Angkatlah screen secara perlahan dan hati-hati, jangan menggeser gambar yang menempel pada kaos.

7.      Proses Foiling

Tunggu hingga adhesive benar-benar kering, kemudian letakkan kaos pada mesin heatpress. Tutup desain gambar menggunakan lembaran foil dengan bagian yang mengkilap menghadap ke atas.

8.      Proses Pengepresan

Dengan menggunakan heatpress cetak foil pada kaos dengan suhu 130oC selama 15 – 20 detik.

9.      Proses Pelepasan Foil

Tunggu sampai bahan foil dingin setelah dipress kemudian lepaskan lapisan foil secara perlahan dan hati-hati.

10.  Selesai. Kini kaos desain anda dengan sablon bahan foil sudah siap dipakai.

Meskipun nampak indah, sablon foil memiliki kelemahan. Untuk menyatukan tinta foil ke kaos tinta foil perlu dicairkan dengan heating press. Pengepressan ini memungkinkan bagian-bagian yang terbuka akan menyusut. Dikarenakan prosesnya seperti itu, maka kaos dengan sablon foil lebih sensitive terhadap proses pencucian dibandingkan dengan jenis sablon yang lain. Bila anda mencuci menggunakan mesin cuci sebaiknya kaos dibalik terlebih dahulu sebelum dicuci, atau akan lebih aman bila dicuci menggunakan tangan dan air dingin serta deterjen yang lebih lembut. Jemur hingga kering dan hindari saat menyeterika mengenai pada foil.