Kaos lokal khas Jogja

Jogja dikenal sebagai kota seni, banyak seniman yang berkreasi dengan berbagai media. Salah satu hasil kreasi seniman Jogja adalah kaos. Kaos hasil produksi dari Jogja sudah melegenda hingga seluruh penjuru tanah air. Kaos juga menjadi salah satu cinderamata wajib bagi wisatawan baik lokal maupun mancanegara yang sedang berkunjung ke kota wisata budaya ini. Berikut ini adalah beberapa merk kaos Jogja yang telah melegenda:

Dagadu Djokdja

Berbicara kaos dari Jogja tidak bisa terpisahkan dari merk satu ini Dagadu Djokja. Merk kaos ini begitu populer hingga ke seluruh Indonesia. Berkat kreatifitaslah yang mengubah produk kaos oblong biasa ini menjadi begitu fenomenal. Kaos Dagadu lain daripada yang lain karena desain-desainnya yang kreatif, cerdas, akrab, penuh humor dan selalu menyajikan nilai-nilai lokal yang merepresentasikan identitas Jogjakarta.

Desain kaos dengan gambar yang lucu dan tulisan yang menyentil penuh sindiran pada kehidupan sosial sering membuat orang tersenyum. Berawal pada tahun 1994 berkat ide berani dan gila dari sekelompok mahasiswa jurusan Teknik Arsitektur UGM. Ketika itu komunitas mahasiswa yang memiliki minat pada masalah perkotaan dan pariwisata ini mendapatkan tawaran untuk menjalankan kios kaki lima di Malioboro Mall, kemudian anggota komunitas yang berjumlah 25 orang ini patungan untuk mengumpulkan modal untuk menyambut tawaran itu. Dan hasilnya sungguh mencengangkan karena kini omzet kaos Dagadu Djokja telah mencapai milyaran per bulannya.

Dagadu ini merupakan nama yang diambil dari istilah slang anak muda Jogja yang artinya : “Matamu” sebuah kata yang merupakan konotasi dari ungkapan kemarahan. Dan kini Dagadu telah menjadi merk dagang kaos yang tidak bisa terpisahkan dengan kota Jogjakarta.

JAPE METHE

Satu lagi merk kaos dari Kota Jogjakarta yaitu JAPE METHE yang dalam bahasa Jawa bermakna “Cahe Dhewe” dan dalam Bahasa Indonesia berarti “Teman Sendiri”. Melihat Jogja sebagai kota wisata utama di Indonesia membuat pendiri JAPE METHE berpandangan bahwa semua adalah teman. Kaos JAPE METHE berkeinginan untuk mengenalkan keramahtamahan masyarakat Jogja dan keunikan dari kota Jogjakarta.

Desain-desain kaos JAPE METHE selalu mengangkat tema tentang Kota Jogjakarta dan kebiasaan masyarakatnya. Desainnya yang unik dan nakal dengan sentuhan seninya yang berkonsep tradisional dan modern menyajikan kekhasan yang mudah diingat oleh para wisatawan dan masyarakat pada umumnya.

Dengan desain kaosnya JAPE METHE memberikan warna tersendiri tentang keunikan Kota Jogja. Dengan tag line “No Jogja without JAPE METHE” mereka ingin menyasar pasar wisatawan sebagai oleh-oleh khas atau cinderamata dari Kota Jogja.

Selain dua merk diatas masih ada lagi merk-merk kaos dari Jogjakarta seperti Kaos Gareng, Kaos Mrongos, Kaos Gayeng, kaos Capung dan lain-lain. Saat ini tidak susah buat kalian untuk membuat kaos khas jogja dengan merek sendiri. Cukup dengan berbelanja kaos polos dan mencari jasa sablon kaos terdekat. Yang penting adalah orisinalitas ide dan kreatifitas. Tunggu apa lagi? wujudkan designmu sekarang dab!

Sumber: http://kaospolosjogja.com

8 Teknik Sablon Khusus Untuk Membuat Kaos Anda Menjadi Unik

Jika Anda mau desain kaos Anda unik dan beda daripada yang lain, cobalah menggunakan teknik – teknik khusus sablon manual yang akan dibahas pada artikel ini. Teknik – teknik sablon tertentu dapat memberikan berbagai hasil yang mengagumkan. Selain terlihat menakjubkan, efek – efek khusus dapat memberikan sudut pandang tersendiri di mata para pembeli, dan dapat berharga lebih tinggi daripada kaos hasil sablonan biasa, karena biasanya, produk yang unik dan berbeda akan berharga lebih tinggi.

Tinta Sablon Discharge

Tinta discharge dapat melepaskan warna – warna sintetis dari kaos, dan meninggalkan warna alami dari serat kain (biasanya hanya berupa warna pudar saja). Warna – warna tersebut kemudian akan digantikan dengan menggunakan tinta discharge tersebut untuk menghasilkan suatu warna baru.


Keuntungan: Tinta discharge yang digunakan pada kaos – kaos berwarna gelap dapat menghasilkan suatu warna yang padat dan tekstur yang halus (misalnya rasa “halus” saat disentuh oleh tangan telanjang). Tinta discharge sangat berguna terutama jika kita menggunakannya pada kaos – kaos berwarna gelap (misalnya hitam). Teknik alternatif lain untuk melakukan pencetakan warna pada kaos – kaos berwrana gelap membutuhkan suatu lapisan “dasar” berwarna putih (yang dihasilkan dari tinta berwarna putih), untuk menjamin opasitas warna, dan memastikan agar warna yang dihasilkan cukup tebal dan padat.

Kelemahan: Karena tidak mungkin kita dapat mengetahui bagaimana setiap baju atau bahan pakaian dapat bereaksi dengan tinta discharge, pencocokan warna semata tidak dapat sepenuhnya menjadi jaminan, karena bisa saja terjadi perpaduan, perubahan, atau pencampuran warna pada proses pencetakan ini.

Tinta Sablon Photochromic

Tinta sablon photochromic, atau tinta UV-reaktif, hampir berwarna transparan ketika dilihat dalam ruangan gelap, tetapi dapat dilihat jelas di bawah sinar matahari (di luar ruangan). Jenis sablon ini masih belum banyak ditemukan di Indonesia.

Keuntungan: Efek  – efek mengagumkan dapat dihasilkan dengan melakukan pencetakan yang mampu memperlihatkan dua jenis desain yang berbeda – satu di dalam ruangan, dan lainnya berada di luar ruangan.

Kerugian: Warna – warna yang dapat digunakan terbatas.

Tinta Menyala / sablon glow in the dark

Tinta menyala, sesuai dengan namanya, berbeda dengan tinta lainnya karena dapat menyala dalam gelap. Dalam suasana yang terang, tinta ini akan terlihat semi – transparan.

Keutungan: Orang – orang dapat menemukan kita dalam gelap

Kerugian: Tinta ini bekerja secara maksimal hanya jika diberikan kepada bahan – bahan kain dengan warna dasar gelap

Sablon Foil

Pencetakan foil merupakan suatu pencetakan yang terdiri dari dua proses, yang meninggalkan suatu “tanda” metalik terang pada baju. Pertama, baju akan disablon, dengan menggunakan suatu perekat, lalu dikeringkan. Selembar foil kemudian akan dipanaskan, dan ditempelkan kepada gambar yang dihasilkan oleh perekat tersebut. Ketika proses tersebut selesai, foil akan menempel dengan gambar tersebut, dan bagian yang berlebih akan dibuang.

Keuntungan: Pencetakan foil merupakan metode terbaik dalam menciptakan efek metalik (bling bling!)

Kerugian: Karena pencetakan ini terdiri dari dua proses, pencetakan foil tidak dapat menghasilkan suatu desain yang benar – benar bagus, memiliki tingkat detail yang tinggi, dan biasanya tidak terlalu tahan dengan aktivitas pencucian daripada baju – baju hasil metode pencetakan yang lainnya.

Sablon Metalik

Tinta metalik dapat menghasilkan suatu efek bersinar, berkelap – kelip, daripada cat mobil metalik. Penyablonan metalik lebih murah daripada pencetakan foil, tetapi efek yang dihasilkan tidaklah sama.

Sablon Glitter

Seperti halnya pencetakan foil dan tinta metalik, tinta glitter dapat dapat membuat desain yang kita buat terlihat berkelap – kelip dan sangat menarik. Teknik ini juga dapat digunakan untuk banyak warna.

Sablon Timbul/ Puff

Tinta puff dibuat dengan menggabungkan suatu campuran konsentrat warna dengan tinta. Tinta hasil pencampuran tersebut (tinta puff) biasanya digunakan untuk proses pencetakan baju dengan melibatkan suatu pipa pemanas, menghasilkan suatu tekstur berbentuk 3 dimensi. Tinta puff juga dapat digunakan untuk berbagai warna.

Sablon Flock

Pencetakan flock didapatkan dengan menambahkan suatu konsentrat warna tertentu ke dalam tinta, yang menyebabkan tinta menjadi lebih kental dan memiliki tekstur seperti beludru, yang kemudian dimasukkan ke dalam pipa pemanas.

Semua teknik pencetakan tersebut dapat digunakan untuk memberikan suatu “sentuhan” tambahan pada desain kita dan membuatnya terlihat semakin unik dan menarik.

Sumber: http://kaospolosjogja.com

Meramal Masa Depan Printer DTG

DTG atau Direct To Garment adalah metode mencetak (menyablon) gambar atau disain secara langsung ke kain atau garment. Pada dasarnya teknologi DTG adalah versi modifikasi dari printer inkjet yang biasa digunakan untuk mencetak ke kertas. Tinta dari DTG printer ini langsung tercetak pada kain tanpa media lain selayaknya mencetak gambar ke kertas menggunakan printer. Perbedaan mendasar hasil cetak dari DTG dibandingkan dengan sablon manual atau screen printing adalah gambar yang tercetak di kain lebih menyatu karena tinta meresap ke dalam serat kain dan DTG mampu mencetak lebih banyak variasi warna dengan waktu produksi lebih cepat untuk jumlah order yang terbatas atau sedikit.

Teknologi  DTG ini masih relatif baru terutama di Indonesia dan harga mesinnya masih relatif mahal yaitu diatas 100 juta rupiah untuk mesin DTG buatan Amerika. Sehingga mesin ini baru bisa dimiliki oleh usaha menegah ke atas. Tetapi dengan semakin berkembangnya teknologi printer DTG diharapkan harga mesin DTG ini akan semakin terjangkau. Dan kini sudah mulai bermunculan industri modifikasi printer DTG di Indonesia dan di kota Jogja yang menawarkan dengan harga yang jauh lebih terjangkau.

Prospek DTG di industri garment ke depan berpeluang menggantikan metode sablon manual atau screen printing. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor:

  1. DTG menghasilkan cetakan dengan kualitas yang sangat tinggi karena tinta yang digunakan mampu meresap ke serat kain sehingga lebih menyatu dengan kain dan tidak terasa di tangan.
  2. DTG mampu mencetak variasi warna yang lebih banyak dan kompleks dengan tingkat gradasi yang halus sekalipun. Gambar selevel foto pun mampu dicetak ke kain menggunakan DTG. Tentu saja hal ini tidak mampu dilakukan oleh screen printing.
  3. Untuk variasi warna yang lebih banyak DTG lebih hemat di bandingkan dengan screen printing karena tidak perlu membuat film sejumlah warna yang akan dicetak sehingga lebih hemat biaya dan waktu.
  4. Ke depan industry fashion terutama kaos atau t-shirt akan diproduksi untuk jumlah limited edition atau terbatas, karena setiap orang ingin memiliki kaos dengan desain eksklusif yang tidak banyak dimiliki orang lain atau kaos dengan desain yang tidak pasaran, sehingga DTG akan menjadi solusi untuk memproduksi kaos dengan desain terbatas, karena akan lebih efisien dibandingkan dengan screen printing.
  5. Untuk pebisnis yang menjalankan bisnis custom t-shirt atau kaos satuan akan sangat efisien menggunakan printer DTG ini. Cukup dengan membeli kaos polos para desainer kaos sudah bisa langsung mencetak dan menjual hasil karyanya.
  6. DTG tidak memerlukan operator yang memiliki skill tinggi seperti halnya screen printing atau sablon manual yang memang harus memiliki skill dalam pembuatan film hingga melakukan sablon.

Dengan beberapa keungulan DTG dibandingkan dengan screen printing seperti disebutkan diatas, tidak menutup kemungkinan DTG akan mendominasi industri printing garment. Tentu saja dominasi DTG akan semakin cepat terjadi bila harga mesin printer semakin murah. Tanda-tanda dominasi printer DTG sudah semakin kelihatan khususnya di Indonesia adalah dengan mulai menjamurnya pebisnis online yang menawarkan kaos satuan atau custom t-shirt menggunakan printer DTG. Hal ini ditunjang pula dengan munculnya printer DTG modifikasi hasil karya pebisnis lokal yang ditawarkan dengan harga yang jauh lebih murah dibandingkan printer DTG produk luar negeri. Printer modifikasi ini biasanya menggunakan basic printer Epson seri Epson T13 untuk ukuran A4 atau Epson R1390 atau R2000. Di kota Jogja sendiri, jasa printer DTG lokal sudah mulai banyak dikenal di kalangan pelaku bisnis kaos.

Sumber: http://kaospolosjogja.com

KAOS POLOS LENGAN PANJANG – COTTON COMBED 20′s

Di Grosir kaos polos jogja ini tersedia kaos polos lengan panjang bahan cotton combed 20s dengan manset pada bagian ujung lengan. Tersedia dari ukuran M-XL. Kaos polos lengan panjang tersedia untuk warna-warna berikut ini: hitam, putih, abu misty, biru muda, biru turkis muda, biru turkis, merah cabe, kuning kenari, ungu muda, hijau stabilo.

kaos-polos-lengan-panjang

Tersedia pula kaos polos lengan panjang tanpa manset lengan, bahan combed 20s jahit rantai standar distro. Cocok buat sablon kaos distro, kaos event, atau seragam.

LP-04-kaos-polos-lengan-panjang LP-03-kaos-polos-lengan-panjang LP-02-kaos-polos-lengan-panjang LP-01-kaos-polos-lengan-panjang

BARU! KAOS POLOS RAGLAN lengan 3/4 bahan cotton combed 20s kini hadir di GROSIR KAOS POLOS JOGJA

Grosir Kaos polos Jogja sedia Kaos polos raglan – lengan 3/4. Bahan cotton combed 20s. Tanpa merek, siap untuk sablon manual atau digital. Tersedia warna-warna berikut ini (body-lengan): putih-hitam, putih biru donker, putih-biru benhur, putih-merah, abu misty-hitam. Tersedia ukuran M-XL. Harga grosir, bisa beli satuan.

D-10-kaos-polos-raglan D-09-kaos-polos-raglan D-08-kaos-polos-raglan D-07-kaos-polos-raglan D-06-kaos-polos-raglan D-05-kaos-polos-raglan D-04-kaos-polos-raglan D-03-kaos-polos-raglan  D-01-kaos-polos-raglan  D-02-kaos-polos-raglan

MALIOBORO, DULU DAN SEKARANG

Selamat datang di 0 km Jogjakarta yang telah mengukir sejarah di setiap ingatan orang-orang yang pernah berkunjung ke kota Gudeg ini. Malioboro adalah jantung kota Jogjakarta yang tak pernah sepi dari pengunjung. Nama Malioboro diambil dari nama seorang Duke Inggris yaitu Marlborough yang pada menduduki kota jogjakarta dari tahun 1811M hingga 1816M. Membentang di atas sumbu imajiner yang menghubungkan Kraton Yogyakarta, Tugu dan puncak Gunung Merapi, jalan ini terbentuk menjadi suatu lokalitas perdagangan setelah Sri Sultan Hamengku Buwono I mengembangkan sarana perdagangan melalui sebuah pasar tradisional semenjak tahun 1758. Setelah berlalu 248 tahun, tempat itu masih bertahan sebagai suatu kawasan perdagangan bahkan menjadi salah satu ikon Yogyakarta yang dikenal dengan Malioboro. Terletak sekitar 800 meter dari Kraton Yogyakarta, tempat ini dulunya dipenuhi dengan karangan bunga setiap kali Kraton melaksanakan perayaan. Malioboro yang dalam bahasa sansekerta berarti “karangan bunga” menjadi dasar penamaan jalan tersebut. Diapit pertokoan, perkantoran, rumah makan, hotel berbintang dan bangunan bersejarah, jalan yang dulunya sempat menjadi basis perjuangan saat agresi militer Belanda ke-2 pada tahun 1948 juga pernah menjadi lahan pengembaraan para seniman yang tergabung dalam komunitas Persada Studi Klub (PSK) pimpinan seniman Umbul Landu Paranggi semenjak tahun 1970-an hingga sekitar tahun 1990.

Sejak zaman dulu, Malioboro telah menjadi pusat kota dan pemerintahan. Berbagai gedung sejarah menjadi saksi perjalanan Malioboro dari sebuah jalanan biasa hingga menjadi salah satu titik terpenting dalam sejarah Jogjakarta. Diantaranya adalah Gedung agung yang didirikan pada tahun 1823M dan merupakan rumah Residen Belanda pada saat itu, Benteng Vredeburg yang merupakan benteng peninggalan Belanda yang didirkan pada tahun 1765M yang kini menjadi museum, Pasar Beringharjo yang merupakan salah satu pasar terbesar di Jogjakarta hingga kini, dan Hotel Garuda yang menjadi tempat para pembesar dan Jendral-Jendral Belanda pada masa itu menginap dan berkumpul selama berada di Jogjakarta. Hingga kini, bentuk bangunannya masih menyisakan berbagai potert kenangan dari kejayaannya pada masa dahulu. Dan masih banyak gedung bersejarah lainnya.

Malioboro tahun 1936

Menikmati pengalaman berbelanja, berburu cinderamata khas Jogja, wisatawan bisa berjalan kaki sepanjang bahu jalan yang berkoridor (arcade). Di sini akan ditemui banyak pedagang kaki lima yang menggelar dagangannya. Mulai dari produk kerajinan lokal seperti batik, hiasan rotan, wayang kulit, kerajinan bambu (gantungan kunci, lampu hias dan lain sebagainya) juga blangkon (topi khas Jawa/Jogja) serta barang-barang perak, hingga pedagang yang menjual pernak pernik umum yang banyak ditemui di tempat perdagangan lain. Sepanjang arcade, wisatawan selain bisa berbelanja dengan tenang dalam kondisi cerah maupun hujan, juga bisa menikmati pengalaman belanja yang menyenangkan saat menawar harga. Jika beruntung, bisa berkurang sepertiga atau bahkan separohnya.

Jangan lupa untuk menyisakan sedikit tenaga. Masih ada pasar tradisional yang harus dikunjungi. Di tempat yang dikenal dengan Pasar Beringharjo, selain wisatawan bisa menjumpai barang-barang sejenis yang dijual di sepanjang arcade, pasar ini menyediakan beraneka produk tradisional yang lebih lengkap. Selain produk lokal Jogja, juga tersedia produk daerah tetangga seperti batik Pekalongan atau batik Solo. Mencari batik tulis atau batik print, atau sekedar mencari tirai penghias jendela dengan motif unik serta sprei indah bermotif batik. Tempat ini akan memuaskan hasrat berbelanja barang-barang unik dengan harga yang lebih murah. Berbelanja di kawasan Malioboro serta Beringharjo, pastikan tidak tertipu dengan harga yang ditawarkan. Biasanya para penjual menaikkan harga dari biasanya bagi para wisatawan.

Benteng Vredeburg dan Gedung Agung

Di penghujung jalan “karangan bunga” ini, wisatawan dapat mampir sebentar di Benteng Vredeburg yang berhadapan dengan Gedung Agung. Benteng ini dulunya merupakan basis perlindungan Belanda dari kemungkinan serangan pasukan Kraton. Seperti lazimnya setiap benteng, tempat yang dibangun tahun 1765 ini berbentuk tembok tinggi persegi melingkari areal di dalamnya dengan menara pemantau di empat penjurunya yang digunakan sebagai tempat patroli. Dari menara paling selatan, YogYES sempat menikmati pemandangan ke Kraton Kesultanan Yogyakarta serta beberapa bangunan historis lainnya. Sedangkan Gedung Agung yang terletak di depannya pernah menjadi tempat kediaman Kepala Administrasi Kolonial Belanda sejak tahun 1946 hingga 1949. Selain itu sempat menjadi Istana Negara pada masa kepresidenan Soekarno ketika Ibukota Negara dipindahkan ke Yogyakarta.

Lesehan Malioboro

Saat matahari mulai terbenam, ketika lampu-lampu jalan dan pertokoan mulai dinyalakan yang menambah indahnya suasana Malioboro, satu persatu lapak lesehan mulai digelar. Makanan khas Jogja seperti gudeg atau pecel lele bisa dinikmati disini selain masakan oriental ataupun sea food serta masakan Padang. Serta hiburan lagu-lagu hits atau tembang kenangan oleh para pengamen jalanan ketika bersantap. Bagi para wisatawan yang ingin mencicipi masakan di sepanjang jalan Malioboro, mintalah daftar harga dan pastikan pada penjual, untuk menghindari naiknya harga secara tidak wajar.

Mengunjungi Yogyakarta yang dikenal dengan “Museum Hidup Kebudayaan Jawa”, terasa kurang lengkap tanpa mampir ke jalan yang telah banyak menyimpan berbagai cerita sejarah perjuangan Bangsa Indonesia serta dipenuhi dengan beraneka cinderamata. Surga bagi penikmat sejarah dan pemburu cinderamata

Hingga saat ini, Malioboro tetap memiliki kharisma yang kuat sebagai sebuah tempat yang selalu menjadi pusat perhatian setiap wisatawan yang datang ke Jogja. Baik itu Wisatawan lokal mapun wisatawan mancanegara, hampir tidak pernah absent untuk berkunjung ke Malioboro setiap kali datang ke kota yang terkenal sebagai kota Pelajar dan kota Budaya ini. Malioboro tidak hanya menjadi surga bagi para penggila belanja yang dapat berburu oleh-oleh khas dan menarik dengan harga yang murah, sepanjang Jalanan Malioboro juga menyuguhkan cerita yang menarik dari setiap sudut gangnya yang memiliki kekhas-an tersendiri, tidak hanya itu, ketika malam hari tiba Malioboro juga menjadi surga bagi para seniman jalanan yang berburu kepingan rupiah di sepanjang jalanan Malioboro yang di penuhi oleh warung-warung lesehan dan angkringan yang menjadi tongkrongan wisatawan ataupun pribumi yang acap kali memesan kopi panas atau teh hangat sebagai suguhan di kala menikmati suasana malam Malioboro sembari mengobrol yang sesekali diselingi tawa canda bersama sahabat ataupun teman yang baru di jumpainya.

Sumber: http://www.haryadisuyuti.com/

Fenomena “Dagadu Aseli Djogdja” Suatu Resistensi ataukah Akulturasi Budaya Lokal Terhadap Budaya Global?

Kota Djogjakarta atau Ngayogyakarto Hadiningrat, sebuah kota budaya dan kota pariwisata di Indonesia yang sangat fenomenal, ketika setiap orang menyebut kota gudeg ini, pastilah akan langsung membelalakkan mata dan menggetarkan hati orang yang mendengarnya. Tentu saja, setiap orang berkeinginan untuk menapakkan kaki di kota yang notabene juga disebut-sebut sebagai kota yang penduduknya berhati nyaman ini. Ketika kita jalan-jalan ke jogja, pasti tak akan pernah lupa untuk memborong cinderamata kreativitas khas anak-anak dan mahasiswa jogja, so.. siapa sich yang ga’ kenal dengan produk dagadu Aseli djogja, oblong wujud kreativitas dan identitas jogja yang sebenarnya.

Taukah anda bahwa sejarah dagadu sebenarnya berawal dari acara iseng-iseng 25 mahasiswa arsitektur UGM yang telah membidani kelahiran Dagadu Djogja ini, hal itu tak lain karena mereka sama-sama tertarik pada bidang kepariwisataan, perkotaan dan tentu saja rancang grafis. Awalnya, mereka mendapat tawaran untuk membuka kios kaki lima di Malioboro Mall yang dibuka pada awal tahun 1994. Mereka kemudian berembug dan patungan sesuai kemampuan kantong mahasiswa. Dan dengan modal yang cukup pas-pasan itulah mereka nekat memproduksi cinderamata alternatif Djokdja yang berupa oblong, gantungan kunci, gambar tempel, dan pernak-pernik lainnya. Pilihan nama Dagadu bermula dari salah seorang di antara mereka yang mengumpat dalam bahasa slang Djokdja : dagadu! (baca: matamu). Umpatan itulah yang memberi inspirasi nama merk dagang produk cinderamata mereka sesaat sebelum mereka berjualan. Akhirnya, dagadu resmi menjadi merk produk cinderamata alternatif yang dijual di Malioboro Mall ini. Untuk menunjukkan lokalitas dari mana cinderamata itu berasal, ditambahilah kata Djokdja setelah Dagadu. Sementara itu pemakaian ejaan lama pada kata Djokdja dimaksudkan untuk memberi muatan nilai historis kota Jogjakarta. Sejak awal kelahirannya, Dagadu Djokdja sudah memposisikan diri sebagai produk cinderamata alternatif dari Djokdja. Sebuah cinderamata, tentu saja akan mengeksplorasi semangat dan khasanah budaya lokal. Selain praktis dan ringan sebagai syarat fungsionalnya, cinderamata juga harus menjadi benda kenangan. Dengan kata lain, selalu ada cerita dibaliknya, ada keunikan yang dibawanya. Djokdja selalu menjadi tema sentral produk Dagadu Djokdja. Everything about Djokdja. Ya tentang artefaknya, bahasanya, kultur kehidupannya, maupun peristiwa keseharian yang terjadi di dalamnya.

Seorang cerpenis dan budayawan, Seno Gumira Ajidarma mengatakan bahwa Perbincangan tentang Dagadu mencakup sejumlah aspek. Pertama, tentu kata dagadu itu sendiri, yang merupakan fenomena budaya menarik, karena merupakan bagian dari politik bahasa kaum paria yang menyeruak, yang pada gilirannya menjadi tandingan serius budaya adiluhung dalam pasar bebas ideologi. Kedua, Dagadu merupakan bagian dari kebudayaan pop: kaos oblong, desain, dan pasar. Seperti semua produk komoditas lain, Dagadu bergulat dengan ide-ide untuk dijual, dan menghadapi persoalan-persoalan pasar. Ketiga, bahwa Dagadu dengan sadar menempatkan dirinya sebagai bagian dari Djokdja, sebagai kota maupun sebagai atmosfir budaya yang belakangan ini membuat produk Dagadu menjadi unik, bahkan kemudian memberi karakter kepada pertumbuhan Djokdja.
Jika kita mulai menilik kedalam secara lebih detail lagi, maka akan muncul banyak pertanyaan dalam otak kita, mampukah produk Dagadu Aseli Djogdja tersebut tetap mempertahankan eksistensi budaya lokal Yogyakarta dari maraknya budaya global masa kini? Dan mampukah produk Dagadu Aseli Djogdja bersaing dengan trand produk budaya global? Why not, pada kenyataannya dagadu dapat bersaing dengan produk-produk yang ditawarkan oleh pasar global. Sampai saat ini dimana globalisasi budaya telah semakin akrab dan memasuki dunia keseharian rakyat Indonesia, tetapi setiap wisatawan yang burkunjung ke Yogyakarta, baik wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara masih tetap pergi ke Malioboro dan mencari produk Dagadu Aseli Djogdja di Malioboro Mall sebagai trand dan cinderamata paling top dari Yogyakarta. Bahkan wisatawan yang berkunjung ke Borobudur di Magelang pun tetap mencari Dagadu Aseli Djogdja ke Malioboro Mall, karena mereka tau bahwa produk Dagadu yang dijual di Borobudur belum terjamin keasliannya. Fenomena ini adalah wujud bahwa budaya lokal mampu bersaing dengan budaya global yang semakin digandrungi oleh masyarakat kita, khususnya masyarakat Yogyakarta.

Kita semakin was-was bahwa atribut budaya lokal seolah-olah terancam akibat budaya global seperti masuknya berbagai komoditas global, misalnya life style para remaja yang semakin condong pada apa yang telah disajikan oleh produk global. Keadaan ini justru akan merubah kita yang tanpa disengaja telah melahirkan berbagai interpretasi atas diri dan perilaku kita. Dalam pada itu, situasi dan kondisi dimana budaya lokal akan dipertaruhkan di tengah kancah kebudayaan global sepertinya melahirkan kontroversi dan paradigma yang berbeda dalam memandang budaya global itu. Sebagian tidak menginginkan adanya perubahan dalam kelokalan budayanya dan tanpa disadari tindakan yang dilakukan telah merubah keaslian kebudayaan itu. Justru dengan begitu, kita dapat memaknai bahwa perubahan itu akan senantiasa terjadi dan tanpa kita sadari akan meresapi diri kita dan masuk ke dalam pola perilaku dan tindakan kita. Oleh karenanya, kebudayaan akan semakin mantap, bertahan dan lestari. Pertanyaan terakhir adalah menyangkut kita sebagai pemuja kebudayaan (idols of culture) kita. Adakah kita berupaya memajukan kebudayaan kita itu, atau malah membiarkan budaya kita itu terlindas oleh budaya global? Dan sampai sejauh manakah pengakuan kita terhadap kebudayaan kita itu? Oleh karenanya, penting dilakukan kembali kaji ulang terhadap kepribadian kita yakni bukan secara langsung melontarkan bahwa kebudayaan kita itu adalah tidak maju, tidak modern, miskin dan terbelakang. Jika demikian yang terjadi maka kebudayaan kita itu akan mengalami pendangkalan makna akibat erosi pemerkayaan dan pemajuan budaya lokal itu. Semua ini adalah bukti bahwa budaya lokal bisa tetap bertahan tetapi jarang sekali yang bisa lepas dari akulturasi budaya global, ini bukanlah masalah asalkan akulturasi tersebut tidak merusak dan menghilangkan nilai-nilai keaslian dari budaya lokal itu sendiri. Seperti adanya budaya pop (kaos oblong dan desain) yang menjadi backround dalam pembuatan kaos Dagadu Aseli Djogdja tersebut toh tetap tidak menghilangkan unsur tradisional dan budaya lokal Yogyakarta. So, globalisasi tak dapat di tolak, tetapi kita harus pandai-pandai dalam memfilter mana yang akan kita serap dalam kehidupan kita sehari-hari dan mana yang akan kita tinggalkan. (yushfa)

sumber:  http://yushfa-hiers.blog.friendster.com/

SEJARAH KAOS OBLONG (dan statusnya kini)

Dibanding jenis pakaian lainnya, sejarah kaos oblong sebenarnya belumlah terlalu panjang. Kemungkinan besar kaos baru muncul antara akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Kaos berbahan katun biasanya dipakai oleh tentara Eropa sebagai pakaian dalam (di balik seragam), yang fleksibel dan bisa dipakai sebagai pakaian luar jika mereka beristirahat di udara siang yang panas. Istilah “T-Shirt” (metafor yang mungkin diambil berdasar bentuknya) baru muncul di Merriam-Webster’s Dictionary pada 1920, dan baru pada Perang Dunia II ia menjadi perlengkapan standar dalam pakaian militer di Eropa dan Amerika Serikat.

Kaos oblong mulai dikenal di seluruh dunia lewat John Wayne, Marlon Brando dan James Dean yang memakai pakaian dalam tersebut untuk pakaian luar dalam film-film mereka. Dalam A Streetcar Named Desire (1951) Marlon Brando membuat gadis-gadis histeris dengan kaos oblongnya yang sobek dan membiarkan bahunya terbuka. Dan puncaknya adalah ketika James Dean mengenakan kaos oblong sebagai simbol pemberontakan kaum muda dalam Rebel Without A Cause (1955).

Teknologi screenprint di atas kaos katun baru dimulai awal “60-an dan setelah itu barulah bermunculan berbagai bentuk kaos baru, seperti tank top , muscle shirt , scoop neck , v-neck dsb. Berbagai bentuk, gambar, atau kata-kata dalam kaos merupakan pesan akan pengalaman, perilaku dan status sosial. Kaos oblong mengkomunikasikan berbagai lokasi atau identitas sosial: tempat (HRC, Borobudur, Bali, Yogyakarta), bisnis (Coca Cola, Yamaha, Suzuki), tim (MU, Inter Milan), konser atau acara kesenian (Jakjazz), komoditas yang dianggap bernilai (VW, Harley Davidson), sementara banyak juga yang mengkomunikasikan slogan (kaos-kaos Dagadu, Joger).

Fashion, Kaos, dan Komunikasi

Meski sudah mulai mendunia sejak “50-an, konvensi mode dunia tetap saja belum memasukkan kaos ke dalam kategori fashion . Kaos tetap saja dianggap sebagai pakaian dalam yang tidak pantas dikenakan sebagai pakaian luar. Memakai kaos masih juga dianggap sebagai tindakan yang unfashion. Karena itu pada masa musik heavy metal mulai digemari kalangan muda, mereka ini sengaja memilih seragam kaos oblong sebagai bentuk penolakan terhadap konvensi arus utama mode dunia (high fashion). Menyobek beberapa bagian dari kaos oblong bahkan merupakan bagian dari gaya subkultur punk. Bagi mereka ini bentuk fashion adalah unfashion.

Perubahan dalam bahan dan teknologi produksi kaos turut berperan dalam perubahan makna kaos dalam kehidupan sosial. Ditemukannya polyester dan bahan-bahan fiber artifisial, bersamaan dengan diperkenalkannya bahan drip-dry untuk pembuatan pakaian, penambahan variasi warna, gaya dan tekstur, membuat kaos semakin diterima sebagai pakaian luar. Meski begitu, dalam diferensiasi sistem fashion, hingga sekarang kaos masih digolongkan dalam kategori low fashion (=unfashion?).  Berbeda dengan produk high fashion yang didesain dan dibuat secara khusus untuk orang-orang khusus, hampir semua kaos merupakan low fashion yang didesain untuk tujuan diproduksi secara massal.

Variasi kaos sebagai pakaian luar sekarang ini sangat beragam. Kaos diproduksi baik dalam warna-warna primer maupun dalam kombinasi yang lebih kompleks, beberapa di antaranya dilengkapi dengan saku untuk menyimpan alat tulis, rokok, atau benda kecil lainnya. Dengan begitu kaos tidak hanya dipakai oleh kalangan muda, laki-laki, atau mereka yang berasal dari golongan bawah saja, tetapi juga dipakai oleh siapa saja. Kita juga melihat kaos dipakai dalam berbagai aktivitas, dari bekerja hingga mengisi waktu senggang, seperti jalan-jalan di pusat pertokoan atau bermain golf.

Kaos oblong sekarang ini juga telah menjadi wahana tanda. Kaos, sebagaimana pakaian lainnya, membawa pesan dalam sebuah “teks terbuka” di mana pembaca atau penonton bisa menginterpretasikannya.

Betapapun klaim atas identitas atau status dalam kaos oblong ini bersifat ambigu, dalam terminologi Umberto Eco (1979), representasinya selalu bersifat undercoded , ia berhubungan secara synecdochical (satu bagian dari kaos mewakili keseluruhan pribadi seseorang) dengan pengalaman, relasi sosial, nilai, atau status yang diklaim secara eksplisit atau implisit oleh pemakainya. Pesan yang disampaikan dalam kaos bukanlah sekedar tentang tempat, kelompok, atau bisnis, tetapi klaim atas status pemakainya. Seorang pemakai kaos oblong Dagadu misalnya, bukan sekedar menyampaikan pesan bahwa kaos oblong yang dipakainya adalah buatan Yogyakarta, melainkan juga mau mengumumkan sebuah pengalaman yang menurut pemakainya cukup penting (ia seperti mau mengatakan,”Mari saya beritahu pengalaman saya jalan-jalan di Yogya”).

Tetapi sekarang ini kaos oblong juga dipakai untuk mengkomunikasikan apa yang bukan bagian dari identitas seseorang. Misalnya, penulis pernah melihat seorang ibu muda yang sedang berjalan mengandeng anaknya. Si ibu ini memakai kaos dengan tulisan “BITCH” di bagian depannya.

Apakah si ibu ini tidak mengerti bahasa Inggris atau penguasaan bahasa Inggrisnya pas-pasan, sampai ia tidak mengerti bahwa bitch (anjing betina) adalah umpatan yang sangat kasar yang biasa dipakai untuk menyebut wanita jalang? Apalagi waktu itu ia sedang menggandeng anaknya. Bukankah si anak ini menjadi cocok dengan umpatan lainnya, son of a bitch ? Seandainya si ibu ini cukup mengerti bahasa Inggris, tentu yang mau dikomunikasikannya adalah “saya bukan bitch “. Ini semacam pendifinisian double negative, di mana seseorang mengklaim (secara ragu-ragu) keanggotaan pada kelompok tertentu yang tidak eksis. Si ibu tadi mengklaim keanggotannya pada kelompok “perempuan/ibu yang baik” tanpa menghadirkan kelompok yang diklaimnya ini. Hal yang sama juga terjadi pada kasus salah satu teman yang memakai kaos bergambar logo Golkar untuk menunjukkan pengejekannya pada Golkar atau untuk mengatakan bahwa ia bukan simpatisan Golkar.

Dengan semakin tumbuhnya industri periklanan, kaos merupakan bilboards mini yang cukup efektif untuk mengkomunikasikan sebuah produk, sebagaimana mengkomunikasikan diri atau identitas. Seringkali kaos dijadikan iklan berjalan yang oleh pengiklan kadang-kadang dibagikan secara gratis. Di Indonesia, adalah hal yang biasa banyak orang berebut mendapatkan pembagian kaos dari OPP pada saat Pemilu (tak jarang juga disertai pembagian “amplop”). Perusahaan-perusahaan sekarang ini juga membuat kaos dengan nama atau logo perusahaan yang tertera di atasnya (Coca Cola, Reebok, Nike, Wilson), dan menjualnya di toko-toko sebagai pakaian produksi massal yang siap pakai. Bagi sejumlah besar pemakainya, tentu memakai kaos oblong tidak dimaksudkan sebagai iklan, melainkan sebagai indikasi status dan pendapatan pemakainya, loyalitas atau kepercayaan pada satu produk. Ia juga merupakan suatu bagian dari identitas diri, “Saya adalah penggemar Coca Cola”, “Seperti Michael Jordan, saya memakai Nike (bagaimana dengan Anda?)”.

Kaos-kaos buatan perusahaan tertentu dianggap mewakili gaya hidup atau selera yang khas, selain sekaligus si pemakai mengiklankan perusahaan pembuatnya. Misalnya kaos bermerek Benetton, Ralph Lauren atau Calvin Klein. Simbol-simbol tertentu pada kaos, seperti buaya kecil atau kuda poni dan pemain polo kecil (dan berbagai variannya), juga sangat penting. Simbol-simbol ini bukan hanya menunjukkan status pemakainya yang mampu mengkonsumsi pakaian buatan desainer mahal, tetapi juga status dalam sistem fashion itu sendiri (ketika kelompok desainer Parisian juga memproduksi kaos, apakah kaos menjadi high fashion ?).

Kaos dan Kehidupan Modern

Lebih dari jenis pakaian yang lain, sejarah kaos bukan saja menunjukkan cepatnya perubahan teknologi dalam industri garmen, melainkan juga menunjukkan bagaimana fashion bernegosiasi dengan ruang dan waktu.

Kaos semula hanya diakui sebagai pakaian dalam. Dan dalam kaitannya dengan pola penempatan ruang, sebagai pakaian dalam kaos adalah pakaian privat . Tetapi kemudian dengan negosiasi lewat media massa dan penemuan bahan serta model-model baru, kaos perlahan mulai tampil sebagai pakaian publik. Karena itu, sejalan dengan kecenderungan kehidupan modern, perjalanan kaos dari ruang privat ke ruang publik ini merupakan ekspansi ruang privat atas ruang publik (privatisasi ruang publik). Sementara dalam kaitannya dengan pola pemanfaatan waktu, kaos menunjukkan bagaimana waktu senggang semakin berhasil mengekspansi waktu yang lain dalam kehidupan sehari-hari. Kaos bisa dilihat sebagai bagian dari leisure class , yang menunjukkan statusnya dengan pemanfaatan waktu senggang sebesar-besarnya.

Persis seperti semboyan kaos oblong Dagadu ” Smart and Smile “, kaos oblong mengajarkan bagaimana hidup modern harus dijalani: berpenampilan cerdas, ringkas, tangkas, sekaligus santai. Hidup dengan segala tetek-bengeknya yang rumit ternyata tidak harus dijalani dengan rumit pula, melainkan bisa dijalani dengan “seperlunya dan santai”. Dalam perspektif ini, papan pengumuman di kampus-kampus yang berbunyi “Dilarang memakai kaos dan sandal” adalah warisan dari kehidupan masa lalu yang “serius” dan sebentuk “pendisiplinan gaya”, yang tidak lagi cocok dengan semangat smart and smile . Karena itu mahasiswa tetap saja berkaos oblong di kampus, pertama-tama bukan untuk menunjukkan perlawanan langsung mereka kepada aturan hidup yang lama, melainkan untuk menunjukkan bahwa diri mereka sendirilah yang paling berhak atas penampilannya. Dan bagaimana mereka harus berpenampilan, salah satunya ditentukan oleh resepsi mereka terhadap media massa, yang juga mengajarkan smart and smile (misalnya semboyan iklan telepon genggam Nokia seri 3210, “Begitu kecil, begitu cerdas”). Jadi hidup modern dijalani dengan semangat mengisi waktu senggang. Inilah yang disebut estetikasi kehidupan sehari-hari yang mencirikan kehidupan modern (di mana “yang etis” bergeser menjadi “yang estetis”). Semangat kehidupan modern sebenarnya adalah semangat kaos oblong.

Referensi

  • Ajidarma, Seno Gumira, 2001, “Djokdja Tertawa, Disain Kaos Oblong DAGADU”, Bernas , 12 Januari 2001.
  • Cullum-Swan, Betsy dan P.K. Manning, 1990, “Codes, Chronotypes and Everyday Objects”, makalah disampaikan dalam konferensi The Socio-semiotics of objects: the role of artifacts in social symbolic process, 20-22 Juni 1990, University of Toronto. Tersedia di: http://sun.soci.niu.edu/~sssi/papers/
    pkm1.txt
  • Eco, Umberto, 1979, Theory of Semiotics , Indiana: University of Indiana Press.
  • Hebdige, Dick, 1999 (1979), Subculture, The Meaning of Style , London & New York: Routledge.
  • McRobbie, Angela, 1999, In the Culture Society, Art, Fashion and Popular Music , London & New York: Routledge.
  • Rojek, Chris, 2000, “Leisure and rich today: Veblen”s thesis after a century”, Leisure Studies 19 (2000), hal. 1-15.
  • T-Shirt King, “History of American T-Shirt”. Tersedia di: http://www.t-shirtking.net/history_of_t-shirts.html

Makalah ini disampaikan sebagai pengantar diskusi “Art on T-Shirt”, Bentara Budaya Yogyakarta, 13 Januari 2001. Versi pendek tulisan initermuat di KOMPAS, 28 Januari 2001.

Sumber: http://kunci.or.id/articles/menjadi-modern-dengan-kaos-oleh-antariksa/

KARAKTERISTIK JENIS KAIN KAOS

Kain Katun

Kain katun adalah jenis kain rajut (knitting) yang berbahan dasar serat kapas. Terdapat jenis kain yang mirip dengan kain katun yaitu kain PE.Cara mudah membedakannya adalah apabila kain katun dibakar maka baunya seperti kertas atau kayu dibakar dan akan menjadi abu.

Keunggulan:

1. Tidak kisut apabila dicuci
2. Tidak luntur untuk bahan berwarna
3. Mudah disablon
4. Menyerap keringat.
5. Tidak berbulu

  • Katun Kombed (Combed Cotton)

Adalah jenis kain katun yang diproduksi dengan finishing disisir (combed) dengan tujuan agar serat-serat kapas halus dapat dipisahkansehingga kain yang dihasilkan lebih halus dan tidak berbulu. Kain katunkombed tersedia dalam dua ukuran yaitu 20s dan 30s.
Kain jenis ini biasa digunakan untuk bahan kaos distro-distro bandung.
Katun Kombed 20s adalah kain katun kombed yang terbuat dari benang yang berukuran 20s.
Katun Kombed 30s adalah kain katun kombed yang terbuat dari benang yang berukuran 30s.
Kain katun kombed 20s lebih tebal daripada 30s. Sehingga kain katun 30s lebih lemes daripada kain katun 20s.

  • Katun Karded

Berbeda dengan kain katun kombed, kain katun karded tidak disisir pada proses finishing pembuatannya. Oleh karena itu masih terdapatserat-serat kapas halus yang tersisa. Tetapi meskipun begitu kain katunkarded memiliki keunggulan harga yang lebih murah dibandingkan kain katun kombed.

Pada kain katun karded hanya terdapat ukuran 20s.
Perbedaan antara kain katun kombed dan karded yang ada di pasaran adalah kain katun kombed lebih tebal daripada kain katun karded.

  • Kain Lacoste

Kain Lacoste adalah jenis bahan yang biasa digunakan untuk membuat kaos polo/kerah/wangki.

  • Kain Pique

Sama seperti kain Lacoste/adidas, kain Pike juga biasa digunakan untuk membuat kaos polo/kerah/wangki. Sama seperti pada kain lacoste/adidas untuk membuat kaos kerah tersebut biasanya digunakan kerah jadi.
Kerah jadi adalah bahan kerah yang sudah jadi diproduksi oleh pabrik dan tinggal jahit.
Kerah bikin adalah kerah yang dibuat sendiri oleh tukang jahit dengan menggunakan bahan yang sama dengan bahan kaos (katun kombed dan karded) dengan menambahkan kain keras di dalamnya.

  • Kain PE

Kain PE (Poly Ester) adalah kain yang tingkatnya berada di bawah katun.Bahan dasarnya adalah benang polyester. Sama dengan katun, PE jugatersedia dalam bentuk bahan kaos oblong, lacoste/adidas, maupun pike.
Untuk kain kaos yang berbahan dasar PE bentuk dan teksturnya hampirmirip dengan kain kaos yang berbahan dasar katun (cotton). Cara mudahmembedakannya adalah kain PE apabila dibakar maka baunya sepertiplastik dibakar, jalan apinya cepat dan akan menjadi arang.

Keunggulan:

Murah

Kelemahan:

Pada beberapa jenis PE untuk bahan kaos, kain ini rawan kisut apabila dicuci dan mudah luntur.
Pada jenis PE untuk bahan sweater, biasanya suka berbulu sesudah beberapa kali dicuci.

  • Light weight wools

Di kepala Anda, kain wol mungkin langsung identik dengan bahan yang berat. Untuk lightweight wools, sesuai dengan namanya, kain wol ini tergolong ringan dan bisa dipadukan dengan apa saja. Jatuhnya di badan pun enak dilihat. Kelebihannya, kain ini agak ‘bandel’ alias tahan banting (awet).

  • Akrilit

Bahan untuk membuat kemeja. Biasanya dikombinasikan dengan rompi berbahan light weight wools

  • Cashmere

Bahan ini tergolong mewah, dengan kualitas prima. Jangan heran bila embel-embel price tagnya pun tergolong menguras kantung. Dipadukan dengan rok yang elegan ataupun dengan jeans saja, cashmere tetap terlihat mewah dan mahal. Semakin sering dicuci, bahan ini akan semakin halus. Tapi perhatikan dulu, tidak sembarang cuci, karena mencucinya pun dilakukan dengan shampoo.

  • Sheer

Biasa digunakan untuk tampilan elegan dan anggun. Pilih yang transparan dilengkapi dengan dalaman, Anda akan terlihat simple yet sexy.

  • Jersey

Untuk bahan satu ini, agar jatuhnya enak dan terlihat oke melekat di lekuk tubuh Anda, pilih yang bahannya agak berat. Satu ukuran lebih besar akan menghindari kesan pakaian melekat ketat yang tidak enak dilihat.

  • Denim

Tidak ada yang tidak mengenal dan sayang pada jenis bahan satu ini. Denim alias bahan jeans, dicintai semua kalangan. Semakin gelap warnanya, semakin mudah mencari padanannya. Selain itu juga denim yang berwarna gelap akan terlihat lebih rapi dan formal daripada yang terang dan belel.

  • Linen

Kain cantik ini berkerut. Tapi jangan sampai kerutannya malahan menganggu penampilan Anda.

  • Lycra

Lycra biasanya dipadukan dengan bahan pakaian lainya, karena kandungannya hanya beberapa persen saja. Tapi bahan pakaian yang terbuat dari unsure lycra akan lebih tahan lama kerapiannya.

  • Leather & Suede

Pasti keduanya sudah sangat familiar di telinga Anda, bukan tidak mungkin, mulai dari dari celana, tas sampai sepatu Anda pun terbuat dari bahan tersebut. Dua-duanya sebenarnya sama-sama terbuat dari kulit. Hanya saja, leather dibuat dari kulit luar, sementara suede dibuat dari bagian kulit dalam. Cari yang halus dan tidak kaku. Untuk dua bahan ini, Anda akan memerlukan teknik perawatan khusus untuk membersihkannya.
Untuk leather, pilih yang tidak mengkilap untuk kesan mahal dan elegan. Mengkilap malahan berkesan murahan.

  • Paragon

Jenis kain yang halus seperti kapas.Umumnya digunakan bahan pembuatan Baju Basket. Kualitas IBL Indonesia

  • D’Tree

Kain berpori penyerap keringat. Biasanya digunakan untuk bahan baju basket juga.

  • Baby Tray

Jenis kain yang bersifat tebal dan halus serta tidak berbulu. Bagian dalamnya lembut seperti selimut. Biasa digunakan untuk bahan Jumper/Sweeter.

  • Aston

Bahan agak licin dan biasanya digunakan dalam pembuatan jas

  • Kanvas

Bahan yang tebal dan kasar. Cocok untuk anak muda. Bahan pembuatan jaket. Jaket dengan bahan ini sangat tahan.

JENIS BENANG DAN RAJUTAN BAHAN KAOS

Seperti yang kita ketahui, bahan dasar dari semua pakaian adalah benang. Untuk suatu benang menjadi kain kaos, harus melalui proses dirajut atau knitting. Baik jenis benang maupun tipe rajutan pada kain kaos berbeda-beda.

JENIS BENANG

1. BENANG 20S.

Biasanya dipakai apabila kita menghendaki ketebalan atau gramasi bahan kaos antara 180 sampai dengan 220 Gram/Meter persegi untuk jenis rajutan Single Knitt.

2. BENANG 24S

Biasa dipakai apabila kita menghendaki ketebalan atau gramasi bahan kaos antara 170 sampai dengan 210 Gram / meter persegi untuk jenis rajutan Single Knitt.

3. BENANG 30S

Biasa dipakai apabila kita menghendaki ketebalan atau gramasi bahan kaos antara 140 sampai dengan 160 Gram / meter persegi untuk jenis rajutan Single Knitt atau Gramasi 210 sampai dengan 230 Gram / meter persegi untuk jenis rajutan Double Knitt.

4. BENANG 40 S

Biasa dipakai apabila kita menghendaki ketebalan atau gramasi bahan kaos antara 110 sampai dengan 120 Gram / meter persegi untuk jenis rajutan Single Knitt atau Gramasi 180 sampai dengan 200 Gram / meter persegi untuk jenis rajutan Double Knitt.

JENIS RAJUTAN

1. SINGLE KNITT (Contoh. Combed 20′S, S nya adalah single knitt)
Pengertian teknisnya adalah rajutan jarum single. Penggunaan hanya satu permukaan atau kaos tidak bisa dibolak-balik (2 permukaan). Jenis rajutan rapat, bahan padat, kurang lentur (stratching). Sebagian besar produk kaos yang ada di pasaran adalah memakai jenis rajutan Single Knitt.

2. DOUBLE KNITT (Contoh. Combed 20′D, D nya adalah double knitt)
Pengertian teknisnya adalah rajutan Jarum Double sehingga penggunaannya bisa dibolak-balik (atas bawah tidak masalah). Jenis rajutan tidak rapat, bahan kenyal, lembut, dan lentur. Produk kaos yang biasa memakai rajutan jenis ini adalah pakaian untuk bayi (baby) dan anak-anak (Kid’s). Ada sebagian orang menyebut bahan ini dengan sebutan Interlock.

3. LACOSTE
Pengertian teknisnya adalah rajutan texture / corak. Penggunaan tidak bisa dibolak-balik. Jenis rajutan bertexture, bulat, kotak, atau menyerupai segitiga kecil-kecil. Sebagian orang ada yang menyebut bahan ini Pique atau Cuti, dan hanya lazim digunakan untuk Polo Shirt atau Kaos Kerah.

4. STRIPER atau YARN DYE
Pengertian teknisnya adalah rajutan kombinasi benang warna (Yarn Dye). Penggunaan tidak bisa di bolak-balik. Jenisnya bisa Single Knitt maupun Double Knitt. Finishing harus openset / belah. Orang awam menyebut bahan ini dengan sebutan bahan salur / warna-warni. Biasa digunakan untuk produk kaos dewasa (Pria, Wanita, T-Shirt, maupun Polo Shirt).

5. DROP NEEDLE
Pengertian teknisnya adalah rajutan dengan variasi cabut jarum. Penggunaannya bisa di bolak-balik. Jenis rajutan texture garis lurus vertikal, lembut, dan lentur. Produk kaos ini banyak digunakan untuk Rib Leher (T-Shirt), Ladies T-Shirt Body Fit, dan kaos singlet.