Harga Kain Katun Yang Tak Pernah Turun

Dalam beberapa tahun terakhir terjadi kenaikan harga hampir seluruh bahan baku industri, terutama bahan baku yang berasal dari bahan baku tanaman industri, termasuk diantaranya adalah bahan baku pembuatan benang seperti kapas, serat sintetis dan rayon. Naiknya harga benang tak pelak berimbas pada harga kain, tak terkecuali kain katun.

Ada beberapa penyebab terjadinya kenaikan harga kain katun dunia 2-3 tahun belakangan ini. Penyebab pertama terutama dikarenakan kenaikan harga BBM yang menghantam dunia beberapa tahun lalu. Kenaikan BBM yang luar biasa ini mau tidak mau menghantam semua sektor termasuk industri tekstil.

Penyebab kedua adalah penyebab yang berhubungan dengan kondisi dalam negeri, yaitu kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL). Dikarenakan industri tekstile digrerakkan oleh mesin industri yang digerakan oleh energi listrik, tentu saja kenaikan harga dasar listrik mengakibatkan biaya produksi akan meningkat. Sebagai contoh pada tahun 2010 ini ketika PLN berencana akan menaikkan TDL sebesar 15% maka berdasarkan data dari Indotextiles, lembaga riset pertekstilan nasional, merilis proyeksi kemungkinan terjadinya pemangkasan produksi besar-besaran hingga 20% di subsektor tekstil dan produk tekstil (TPT) hulu. Dan hal ini juga akan meningkatkan harga di sector yang lebih hilir, yaitu industri benang dan kain, sebesar 3 -5%.

Penyebab ketiga terjadinya kenaikan harga kain khususnya di industri hilir dan pedagang kain adalah kelangkaan kain di pasaran. Kelangkaan tersebut disebabkan supply kapas sebagai bahan dasar pengolahan kain yang selama ini di-impor dari India dan Cina menurun. Menurunnya supply kapas tersebut disebabkan kegagalan panen tanaman kapas akibat bencana banjir yang menimpa dua wilayah tersebut beberapa tahun belakangan ini.

Selain penyebab yang telah dijelaskan di atas, kelangkaan juga bisa disebabkan oleh permainan pedagang besar yang mempermainkan distribusi kain ke pasaran atau menipisnya stok bahan di gudang-gudang produksi. Dan bisa juga disebabkan oleh aksi borong yang dilakukan pemodal besar.

Akibat dari tingginya harga kain dipasaran tentunya yang paling merasakan dampaknya adalah pengusaha dan pengrajin kecil. Pengusaha kecil biasanya akan mengurangi produksinya hanya dengan mengerjakan pesanan yang sudah pasti dari pelanggannya. Karena sangat berisiko bagi pengusaha kecil yang memiliki modal terbatas untuk berproduksi ditengah harga bahan baku, kain, yang tinggi. Bila hasil produksinya tidak segera terserap pasar maka itu akan menggerus modal mereka.

Dengan mengurangi jumlah produksinya, itu artinya berkurangnya loading produksi dan pastinya berimbas panda pengurangan tenaga kerja. Dan ujung dari semua itu adalah timbulnya pengangguran.

Dan akibat lain ketika harga kain di dalam negeri naik, maka pengusaha akan berusaha mencari sumber yang bisa memberikan harga kain yang lebih murah, dan biasanya kain-kain produksi China memiliki harga yang lebih murah. Dan tak pelak kain-kain China yang harganya lebih murah membanjiri pasaran dalam negeri. Itu artinya industri pemintalan benang dan kain dalam negeri tidak akan bisa bersaing lagi dengan kain dari China. Mau tidak mau mereka harus menutup pabrik-pabriknya, dan tenaga kerjanya akan kehilangan mata pencahariannya. Perlu tindakan nyata dari pemerintah untuk melindungi industri tekstil dalam negeri.


Leave a Reply

Your email address will not be published.